x

Jasmani Sakit, Batin Tidak Sakit

Suppabuddham pabujjhanti, sada gotamasavaka,
yesam diva ca ratto ca, niccam kayagata sati

Mereka yang senantiasa merenungkan tubuh siang dan malam
adalah para siswa Gotama,
mencapai pencerahan dengan baik sepanjang masa.

(Dhammapada 299)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Pernahkah kita sakit dan mendapat nasihat, walaupun jasmani sakit, tapi batin jangan ikut sakit, atau justru kita yang pernah memberi nasihat seperti itu, kepada sahabat, kerabat, atau orangtua yang sedang sakit?

Ajaran Sang Buddha menjelaskan, ada dua jenis penyakit yaitu penyakit jasmani dan penyakit batin. “Para bhikkhu ada dua jenis penyakit ini, apakah dua ini? Penyakit jasmani dan penyakit batin. Orang-orang dapat mengaku menikmati kesehatan jasmani selama satu, dua, tiga, empat, dan lima tahun, selama sepuluh tahun, dua puluh tahun, tiga puluh tahun, empat puluh tahun, dan lima puluh tahun, bahkan seratus tahun atau lebih. Tetapi selain mereka yang noda-nodanya telah dihancurkan, adalah sulit untuk menemukan orang-orang di dunia, yang dapat mengaku, menikmati batin bahkan untuk sesaat, (Anguttara Nikaya 4.157)”. Kita dapat mengambil dua makna dari penjelasan Sang Buddha.

Yang pertama adalah orang yang noda-noda batinnya belum dihancurkan. Ini adalah ciri manusia biasa, kaum duniawi (puthujjana). Noda batin merupakan perwujudan dari keserakahan, kebencian, dan delusi. Mereka yang masih memiliki noda batin, walaupun jasmani sehat, sebetulnya batin sedang sakit.

Yang kedua adalah orang yang noda-noda batinnya telah dihancurkan. Ini adalah ciri Seorang Arahanta. “Bagi mereka yang nafsu dan kebencian bersama dengan kebodohan telah dihapuskan, Para Arahanta dengan noda dihancurkan; Bagi Mereka, kekusutan telah terurai, Brahmanasamyutta, Sagathavagga, Samyutta Nikaya (SN 7. 6). Dengan demikian, karena noda-noda batin telah dihancurkan, maka memiliki batin yang damai, “Di mana pun para arahanta berdiam, di pedusunan atau di hutan, di lembah atau di bukit; tempat itu menjadi tempat menyenangkan” (Dhammapada 98).
Walaupun demikian, bukan berarti Arahanta bebas dari penyakit jasmani. Misalnya di dalam Anuruddhasamyutta, Mahavagga, Samyutta Nikaya, (SN. 52.10), menjelaskan bagaimana Yang Mulia Anuruddha mengalami sakit jasmani, menderita, dan sakit keras. Bojjhanga Paritta juga menjelaskan bahwa Yang Ariya Moggallana dan Yang Ariya Kassapa juga menderita sakit. Sang Buddha beberapa kali juga mengalami sakit, seperti saat kaki terluka oleh serpihan batu. Sang Buddha mengalami perasaan jasmani yang menyakitkan,Marasamyutta, Sagathavagga, Samyutta Nikaya (SN 4. 13), atau seperti yang diceritakan di Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya (DN 16), setelah memakan makanan yang dipersembahkan Cunda, Sang Buddha diserang oleh penyakit, hingga mengalami diare berdarah. “Tidak ada penjamin, apakah seorang petapa, brahmana, deva, Mara, Brahma atau siapa pun di dunia, atas apa pun yang tunduk pada penyakit agar tidak jatuh sakit” (Anguttara Nikaya, 4.182).

Sebagai manusia biasa, kaum duniawi, dua hal ini dapat kita jadikan renungan agar penyakit batin tidak semakin berkembang:

  • Merenungkan kemurnian perilaku moralitas

Moralitas berhubungan dengan kegelisahan batin dan kedamaian batin. Moralitas buruk (membunuh, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan hubungan seksual yang salah, berbohong dan minum-minuman keras) dapat memunculkan kegelisahan. Contohnya, Raja Ajatasattu harus menjalani hidup dengan penuh kegelisahan dan penyesalan akibat membunuh ayahnya, bahkan yang paling merugikan adalah kehilangan kesempatan untuk menjadi manusia mulia (sotapanna). Samannaphala Sutta, Digha Nikaya (DN 2). Jasmani sehat, batin sedang sakit. “Ia gelisah di dunia ini, ia gelisah setelah ajal tiba. Pelaku keburukan gelisah di kedua alam. Keburukan telah aku perbuat, demikian ia gelisah. Ia kian menjadi gelisah setelah tiba di alam sengsara” (Dhammapada 17).

Sedangkan perilaku bermoral adalah bebas dari penyesalan. “Ananda tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral adalah ketidak-menyesalan (Anguttara Nikaya, 11.1). Artinya memiliki moral yang lurus memunculkan kedamaian. “Ia bersukacita di dunia ini, ia bersukacita setelah ajal tiba. Pelaku kebajikan bersukacita di kedua alam. Ia bersukacita, ia bergembira melihat kebersihan perbuatan diri (Dhammapada 16). Perilaku bermoral begitu penting, bahkan ketika Sang Buddha mengunjungi bhikkhu yang sakit, pertama yang dilakukan adalah membebaskan bhikkhu tersebut dari rasa penyesalan, baru setelah itu mengajarkan Dhamma yang mengarah pada pencapaian kesucian. Seperti di Khandhasamyutta, Khandhavagga, Samyutta Nikaya (SN. 22.88), Aku harap, Assaji, engkau tidak terganggu oleh penyesalan, tidak memiliki alasan untuk mencela dirimu sehubungan dengan moralitas. Setelah menegakkan sehubungan dengan perilaku moralitas, Sang Buddha mengajarkan Dhamma yang mengarah pada pencapaian kesucian.”

  • Merenungkan jasmani (rupa) dan batin (nama) bukan milikku

Di dalam Khandhasamyutta, Khandhavagga, Samyutta Nikaya (SN. 22.1), Yang Mulia Sariputta menjelaskan kepada perumah tangga Nakulapita ciri-ciri orang yang menderita secara jasmani dan menderita secara batin. “Kaum duniawi yang tidak terlatih, yang bukan salah satu dari para mulia, dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka. Ia menganggap bentuk, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan kehendak, dan kesadaran sebagai aku dan milikku, hidup dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, bentuk, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan kehendak, dan kesadaran berubah, dengan perubahan itu, maka muncul dalam dirinya, penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidaksenangan dan keputusasaan.

Sementara ia yang menderita secara jasmani dan tidak menderita secara batin adalah siswa mulia yang terlatih, yang merupakan salah satu dari para mulia, dan terampil dan disiplin dalam Dhamma mereka. Ia tidak menganggap bentuk, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan kehendak dan kesadaran sebagai aku dan milikku. Karena tidak dikuasai oleh gagasan-gagasan ini, ketika bentuk, perasaan, persepsi, bentukan-bentukan kehendak dan kesadaran berubah, maka tidak akan muncul dalam dirinya, penderitaan, ratapan, kesakitan, ketidak-senangan dan keputusasaan.

Demikianlah ketidaksakitan batin ditunjukkan dengan sudah dihancurkannya keserakahan, kebencian dan delusi. Sebagai manusia biasa, kaum duniawi, masih sakit dalam jasmani dan sakit dalam batin. Walaupun demikian, alih-alih menjadi kaum duniawi yang dungu, yang tidak belajar Dhamma, yang tidak terlatih dalam praktik Dhamma (dana, sila dan bhavana), kita hendaknya berusaha menjadi kaum duniawi yang baik. Memiliki pengetahuan Dhamma, yang terlatih dalam latihan praktik bermoral, yang berusaha mencapai jalan. Dengan perilaku bermoral secara bertahap memberi manfaat pada pencapaian terunggul. “Tegak dalam segala latihan moralitas, mengembangkan perhatian dan pengembangan, secara bertahap, Aku mencapai akhir segala belenggu” (Kaligodhaputtabhaddiya, (Theragatha 16.7)).

Merenungkan tentang keberadaan jasmani juga patut diulang-ulang. Jasmani harus dilihat sebagai bentuk yang tidak kekal, mengalami perubahan. Apa yang tidak kekal dan mengalami perubahan adalah penderitaan. Apa yang tidak kekal dan menimbulkan penderitaan, tidak benar dikatakan sebagai, ini aku, ini milikku, kenapa? Karena jika jasmani ini adalah aku, milikku, maka kita bisa meminta agar jasmani sesuai yang kita inginkan, tidak berubah. Tetapi, karena tidak mampu meminta agar jasmani sesuai yang kita inginkan, maka jasmani bukan milikku. Akhirnya, manfaat merenungkan jasmani sebagai sesuatu yang tidak kekal, mampu membebaskan penyakit batin. “Suppabuddham pabujjhanti, sada gotamasavaka, yesam diva ca ratto ca, niccam kayagata sati” “mereka yang senantiasa merenungkan tubuh siang dan malam adalah para siswa Gotama, mencapai pencerahan dengan baik sepanjang masa” (Dhammapada 299). Maksud merenungkan tubuh adalah menghayati tubuh berdasarkan sifatnya; rapuh, menjijikkan, tidak kekal dan tiada diri. Semoga kita maju dalam Dhamma, semoga semua makhluk berbahagia.

Pustaka Rujukan:

  • Bhikkhu Dhammadhiro, 2014. Pustaka Dhammapada Pali - Indonesia. Jakarta: Sangha Theravada Indonesia.
  • Bhikkhu Dhammadhiro, 2019. Paritta Suci. Jakarta: Sangha Theravada Indonesia.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2015. Anguttara Nikaya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Team Giri Manggala Publication dan Team DhammaCitta Press (penerjemah). 2009. Digha Nikaya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2010. Samyutta Nikaya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2017. Theragatha. Jakarta: DhammaCitta.

Dibaca : 3167 kali