x

KETEKUNAN SUMBER KEBAHAGIAAN

Dhammancare sucaritam, na tam duccaritam care.
Dhammacari sukham seti, asmim loke paramhi ca.

Jalankanlah praktik hidup yang benar dan janganlah lalai.
Barang siapa yang hidup sesuai dengan Dhamma akan bahagia
di dunia ini maupun di dunia berikutnya.

(Dhammapada, Loka Vagga, 169)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Hidup bahagia merupakan keinginan yang dimiliki banyak orang. Untuk menggapainya seseorang membutuhkan usaha dan ketekunan supaya memperoleh hasil yang maksimal. Dalam upayanya, terkadang seseorang akan mengambil cara yang salah, tetapi ada juga yang berusaha dengan cara yang benar. Orang yang ingin bahagia dengan cara yang benar harus menanam hiri dan ottappa dalam dirinya, sehingga segala tindakan yang dilakukan bisa dipertimbangkan terlebih dahulu, baik mengenai dampak atau hasil yang akan dihasilkan dari tindakannya, apakah bermanfaat ataukah tidak bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain.


Tentu perolehan berupa materi yang dapat dinikmati menjadi hasil dari usaha dan ketekunannya, dan itu merupakan kebahagiaan untuk saat ini. Lalu bagaimana supaya semangat dan ketekunan yang dimiliki bisa bermanfaat tidak hanya memberikan kebahagiaan di kehidupan ini, tetapi juga mampu bermanfaat pada kehidupan yang akan datang? Dalam Appamada Sutta (AN.4. 116) Sang Buddha menyampaikan 4 kesempatan ketika ketekunan harus dipraktikkan, yaitu:

  1. Tinggalkanlah perbuatan buruk melalui jasmani dan kembangkanlah perbuatan baik melalui jasmani.

    Pembunuhan, pencurian, dan asusila merupakan perbuatan buruk melalui jasmani. Banyak kehidupan, harta, masa depan orang lain terenggut akibat ketiga perbuatan tersebut, karenanya harus dihindari. Apa yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan sikap cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk. Sang Buddha mengatakan bahwa barang siapa mencari kebahagiaan bagi diri sendiri dengan tidak menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah kematian ia akan memperoleh kebahagiaan (Dhammapada, 132)

    Termasuk melatih diri untuk memiliki kemurahan hati adalah penting, sikap ini hendaknya memberi tanpa memandang siapa pun orangnya, layaknya seperti hujan lebat dan merata membasahi dunia (Itivuttaka).

    Selain itu, mengembangkan rasa puas terhadap pasangan juga baik, supaya dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan dalam keluarga. Hal-hal demikian sangat penting untuk dipraktikkan supaya dapat mengembangkan perbuatan baik melalui jasmani.

  2. Tinggalkanlah perbuatan buruk melalui ucapan dan kembangkanlah perbuatan baik melalui ucapan, jangan lengah dalam hal ini.

    Suatu ucapan dikatakan buruk ketika disampaikan dengan cara yang tidak baik, seperti memfitnah, mengucapkan kata-kata kasar, mencaci maki, dan lainnya. Menjadi demikian karena tidak adanya pengendalian diri, sehingga tidak sedikit orang akan merasa tersinggung dan sakit hati, dan akhirnya menimbulkan permusuhan.

    Ucapan layaknya seperti senjata, bisa menjadi pelindung atau yang menghancurkan diri sendiri. Seperti kisah yang dialami Bhikkhu Kapila yang hidup di masa Buddha Kassapa, memiliki sikap sombong dan suka berkata-kata kasar kepada para bhikkhu lain. Ketika terlahir di masa Buddha Gotama terlahir sebagai seekor ikan emas di Sungai Acirawati yang sangat indah tetapi mulutnya berbau busuk.
    Bagaimana seseorang seharusnya mengembangkan ucapan? Dalam Subhasitavaca Sutta (AN.5.198) untuk berucap yang baik, dan tidak sampai dicela oleh mereka yang bijaksana hendaknya suatu ucapan diucapkan tepat waktu, ucapan itu benar, diucapkan dengan lembut, bermanfaat, dan diucapkan dengan pikiran penuh cinta kasih.

  3. Tinggalkanlah perbuatan buruk melalui pikiran dan kembangkanlah perbuatan baik melalui pikiran, jangan lengah dalam hal ini.

    Pemikiran-pemikiran sensual, niat jahat merupakan perbuatan buruk melalui pikiran. Hal demikian harus dihindari dan ditinggalkan, tentu segala bentuk ucapan maupun perbuatan adalah hasil dari pikiran, walaupun demikian perlu disaring sehingga bisa dipertimbangkan, pikiran mana yang perlu disimpan dan pikiran mana yang perlu dibuang.

  4. Tinggalkanlah pandangan salah dan kembangkanlah pandangan benar, jangan lengah dalam hal ini.

    Dalam Sammaditthi Sutta (MN. 9) menjelaskan bagaimana siswa agung memiliki pandangan benar, salah satunya ia memahami hal yang tidak bajik dan akar dari yang tidak bajik, serta hal yang bajik dan akar dari yang bajik. Membunuh, mencuri, berucap yang tidak benar, kasar, iri hati, dan bentuk batin yang negatif lainnya adalah hal yang tidak bajik, sedangkan akarnya adalah keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Sedangkan hal yang bajik dan akar dari yang bajik merupakan kebalikannya.

    Seseorang yang menganggap hal yang tidak bajik sebagai yang bajik dan hal yang bajik sebagai tidak bajik mencerminkan pandangan keliru. Pandangan salah menyebabkan seseorang bertindak yang tidak baik, sehingga menghasilkan dampak negatif bagi pelaku. Hal demikian harus dipahami dan dihindari. Apa yang perlu dikembangkan adalah mengasah diri untuk memiliki pemahaman mengenai pandangan benar, seperti memahami hal yang bajik dan tidak bajik dengan benar.

Itulah 4 hal yang dapat diingat, direnungkan, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Memanfaatkan potensi yang ada dalam diri untuk mengarahkan diri pada hal-hal baik dalam ketekunan, tentunya pada penghindaran dari hal buruk melalui perbuatan badan jasmani, ucapan, pikiran, termasuk pandangan salah, selain itu mengembangkan diri pada perbuatan baik melalui jasmani, ucapan, pikiran, dan pandangan benar.

Jadi, ketekunan menjadi hal penting yang harus dikembangkan, terutama dalam hal menggapai kebahagiaan yang diinginkan. Ada kebahagiaan yang diperoleh dari luar diri berupa perolehan materi, tetapi bersifat hanya untuk kehidupan saat ini. Sedangkan ada juga kebahagiaan yang berasal dari ketekunan menghindari hal buruk dan pengembangan hal baik yang manfaatnya akan dirasakan tidak hanya pada kehidupan ini, tetapi juga pada kehidupan yang akan datang.

Dibaca : 2529 kali