x

Membangun dan Mempertahankan Keharmonisan

Pare ca na vijananti mayamettha yamama se,
ye ca tattha vijananti tato sammanti medhaga

Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa,
tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran.

(Syair Dhammapada Yamaka Vagga 6)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Pendahuluan
Dalam kehidupan berumah tangga sudah sepatutnya menghindari pertengkaran, baik dalam lingkungan keluarga maupun pada pihak lain. Dengan merenungkan kerugian dari pertengkaran, maka orang-orang akan enggan untuk bertengkar.
Sebaliknya, dengan merenungkan manfaat menjaga kerukunan dan keharmonisan, maka akan mendatangkan suasana kekeluargaan yang bahagia dan damai.
Oleh karena itu, sebagai perumahtangga sangat diperlukan keharmonisan dalam kehidupannya sehari-hari. Untuk memiliki keharmonisan dalam rumah tangga, maka perlu diwujudkan dengan sikap mau menghargai satu sama lain. Sehingga, setiap orang dapat saling menerima kekurangan maupun kelebihan masing-masing, serta mau mendengarkan pendapat orang lain, dan tidak menganggap diri sendiri yang paling benar. Dengan cara demikianlah, maka setiap orang akan saling mendukung terwujudnya keharmonisan dalam lingkungan keluarga maupun dalam bermasyarakat.

Pentingnya membangun dan mempertahankan keharmonisan
Untuk mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan perumahtangga maupun relasi lainnya, maka hal yang perlu dilakukan ialah adanya sikap yang terbuka pada pihak lain. Sehingga, seseorang mampu menerima pihak lain sesuai sifat dan karakternya.
Dengan saling memahami, maka akan terjadi penerimaan yang baik pada kedua pihak.

Untuk itu, perlu diketahui cara apa saja yang dapat digunakan dalam membangun keharmonisan yang baik, serta dapat mempertahankannya. Adapun cara-cara yang dapat diterapkan untuk memelihara hubungan baik yang harmonis dalam lingkup keluarga maupun pengikut sebagaimana yang terdapat pada Anguttara Nikaya (AN.8:24. Hatthaka) sebagai berikut; “Pengikutmu banyak, Hatthaka. Bagaimanakah engkau mempertahankan pengikut yang banyak ini?” “Aku melakukannya, Bhante, dengan empat cara memelihara hubungan baik yang diajarkan oleh Sang Bhagava.

Ketika aku mengetahui: ‘Orang ini harus dipelihara dengan pemberian, maka aku memeliharanya dengan pemberian.
Ketika aku mengetahui: Orang ini harus dipelihara dengan kata-kata kasih sayang, maka aku memeliharanya dengan kata-kata kasih sayang.
Ketika aku mengetahui: Orang ini harus dipelihara dengan perbuatan baik, maka aku memeliharanya dengan perbuatan baik.
Ketika aku mengetahui: Orang ini harus dipelihara dengan sikap tidak membeda-bedakan, maka aku memeliharanya dengan sikap tidak membeda-bedakan. Ada kekayaan dalam keluargaku, Bhante. Mereka tidak berpikir bahwa mereka harus mendengarkan aku seolah-olah aku miskin.” “Bagus, bagus, Hatthaka!

Ini adalah metode yang dengannya engkau dapat memelihara banyak pengikut. Karena mereka semua di masa lampau yang memelihara banyak pengikut melakukannya dengan empat cara memelihara hubungan baik yang sama ini. Mereka semua di masa depan yang akan memelihara banyak pengikut akan melakukannya dengan empat cara memelihara hubungan baik yang sama ini.

Dan mereka semua di masa sekarang yang memelihara banyak pengikut melakukannya dengan empat cara memelihara hubungan baik yang sama ini.” Itulah empat cara yang dapat digunakan untuk memelihara hubungan baik atau pun mempertahankan keharmonisan dalam lingkungan keluarga dan para pengikut.

Selain itu, dalam upaya mempertahankan keharmonisan yang sudah terbentuk agar dapat bertahan lama juga perlu dilakukan. Sehingga, untuk dapat saling dicintai dan saling mendukung satu sama lain, yang membuat untuk saling dikenang. Sebagai mana yang terdapat pada SaraniyadhammaSutta(Sutta tentang hal-hal yang membuat dikenang). “Terdapat enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiada-cekcokan, kerukunan dan kesatuan.”
Keenam hal itu ialah; seorang bhikkhu memiliki per-buatan, ucapan, dan pikiran yang disertai dengan cinta-kasih terhadap sesama brahmacari (pelaksana kehidupan luhur), baik di depan atau pun di belakang mereka. Inilah hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiadacekcokan, ke-rukunan dan kesatuan.

Di sini seorang bhikkhu berbagi catupaccaya (kebutuhan pokok; jubah, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan) yang diterima, sebagai sesuatu yang pantas, yang diperoleh dengan cara yang pantas, meskipun barang dua tiga suap makanan; meng-gunakannya sebagai milik bersama dengan sesama brahmacari.

Seorang bhikkhu memiliki kesamaan dalam pelaksanaan sila/moral dengan sesama brahmacari, baik di depan atau pun di belakang mereka; sebagai pelaksana sila yang tidak terputus-putus, yang tidak berlubang, tidak belang, tidak bernoda di sana-sini, yang mengatasi, yang dipuji para bijaksana, yang dilaksanakan demi (pengembangan) samadhi.

Seorang bhikkhu memiliki kesamaan dalam pe-megangan pandangan benar (samma-ditthi) dengan sesama brahmacari, baik di depan atau pun di belakang mereka; yang luhur, yang menjadi pembimbing, membimbing pelaksana ke akhir dukkha/duka secara benar. Inilah enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati, menunjang untuk saling ditolong, untuk ketiada-cekcokan, kerukunan dan kesatuan.” (Paritta Suci hal.187-8). Walaupun khotbah tersebut disampaikan kepada para bhikkhu, namun hal itu juga dapat diterapkan oleh para perumah tangga dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti kata bhikkhu dan sesama brahmacari dapat diterapkan untuk seseorang dan kepada anggota keluarga atau kepada relasi lainnya.

Kesimpulan
Dari apa yang telah dijelaskan di atas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa keharmonisan sangat diperlukan setiap orang dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Terutama pada keluarga yang majemuk, dengan saling menghargai dan mencintai, maka keharmonisan dalam keluarga dapat terwujud. Selain itu adalah penting untuk mempertahankan keharmonisan yang sudah tercipta dengan senantiasa saling menjaganya.

Dengan mengingat Saraniyadhamma dan Hatthaka sutta, serta syair Dhammapadakeenam di atas sehingga, setiap anggota keluarga punya peran dan tanggung jawab untuk saling menjaga lingkungan keluarga yang tetap harmonis.

Oleh karena itu, keluarga yang harmonis tentu akan tecapai dengan usaha dari setiap anggota keluarga untuk mewujudkan dan menjaga keharmonisan tersebut. Untuk itu, hiduplah dengan saling menyayangi di antara sesama anggota keluarga dan sanak famili.

Sehingga setiap anggota keluarga dapat memperoleh kebahagiaan, kerukunan dan kenyamanan. Itulah mengapa pentingnya peran setiap orang untuk memberikan sumbangsih dalam keharmonisan suatu keluarga.

Semoga apa yang telah disampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua, semoga dapat dipahami, serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, manfaat yang diharapkan dapat tercapai dalam kehidupan ini.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Referensi:

  • Anguttara Nikaya Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha, Alih Bahasa: Indra Anggara. (2015). Jakarta Barat: Dhammacitta Press.
  • Paritta Suci Kumpulan Wacana Pali untuk Upacara Puja, Bhikkhu Dhammadhiro Mahathera (Penyaji), Indonesia (Edisi III Pembaruan 2019). Sangha Theravada Indonesia.
  • Kitab Suci Dhammapada, Bahussuta Society, 2012.

Dibaca : 2711 kali