x

CANKAMANA

Ditthe ditthamattam bhavissati,
sute sutamattam bhavissati, mute mutamattam bhavissati,
vinnate vinnatamattam bhavissati.

Dari apa yang dilihat sekadar dilihat;
dari apa yang didengar sekadar didengar;
dari apa yang dirasakan sekadar dirasakan;
dari apa yang dipikirkan sekadar dipikirkan.

(Bahiya Sutta; Ud. 8)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Meditasi yang diajarkan oleh Buddha bertujuan untuk melenyapkan noda batin (kilesa). Oleh karena noda batin dapat muncul kapan saja, maka meditasi juga harus dipraktikkan pada saat menjalani semua aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk meditasi yang dianjurkan oleh Buddha adalah meditasi berjalan (cankamana). Meditasi ini dapat dilakukan oleh siapa saja walaupun seseorang menganggap dirinya sangat sibuk, karena yang dibutuhkan hanyalah sadar dengan setiap langkahnya.
Dalam berlatih meditasi jalan, ada sejumlah persiapan yang harus diperhatikan. Praktik meditasi jalan membutuhkan ruangan yang lebih luas bila dibandingkan dengan meditasi duduk. Untuk melakukan meditasi duduk, biasanya hanya membutuhkan tempat yang cukup untuk duduk. Namun, untuk melakukan meditasi jalan, seseorang membutuhkan ruangan yang panjangnya minimal 5 meter. Menurut Kitab Komentar, lebar sebuah tempat yang biasa digunakan untuk melakukan cankamana adalah sekitar 60 cm dengan panjang maksimal adalah 30 meter.
 Dijelaskan lebih lanjut bahwa ketika tempat meditasi terlalu sempit, akan membuat sulit bergerak. Sedangkan tempat meditasi yang terlalu panjang atau terlalu lebar, akan membuat pikiran mudah mengembara. Dengan demikian, tempat tersebut tidak kondusif untuk praktik meditasi jalan. Permukaan lintasan meditasi jalan juga sebaiknya yang lembut dan tidak terlalu keras atau kasar. Bila keras atau kasar, telapak kaki akan terasa tidak nyaman, bahkan bisa terluka bila permukaannya terlalu tajam.
Posisi tangan dilipat di depan atau belakang badan. Pandangan mata kira-kira 2 meter ke arah depan. Secara alami namun penuh konsentrasi, langkahkan kaki satu demi satu. Pada saat melangkah, perhatian diarahkan pada pergerakan kaki (motion) atau sensasi (sensation) yang muncul di telapak kaki. Ketika tiba di ujung lintasan, berhentilah sejenak, berputar perlahan, dan berjalan kembali, begitu seterusnya sampai waktu meditasi selesai. Dengan mengamati pergerakan kaki, akan muncul sensasi. Sensasi fisik akan menimbulkan reaksi batin. Dengan adanya reaksi batin, kita akan bisa mengamati dengan jelas bagaimana noda batin yang ada dalam diri kita sendiri. Inilah mengapa cankamana bisa memberikan manfaat yang begitu besar pada perkembangan spiritual seseorang.
 Dalam Cankama Sutta (AN 5.29), Guru Agung Buddha menyebutkan 5 manfaat yang bisa diperoleh seseorang dari meditasi berjalan:

  1. Ia menjadi mampu melakukan perjalanan (addhanakkhamo hoti)
  2. Y.M. Ananda akan bisa menentukan jarak perjalanan yang ditempuh oleh Buddha pada hari itu dari durasi cankamanaBeliau. Semakin lama Buddha melakukan cankamana, berarti semakin jauh jarak yang akan ditempuh. Dengan kata lain, cankamanabisa dianggap sebagai pemanasan (warming up) sebelum menempuh perjalanan.

  3. Ia menjadi mampu berusaha dengan penuh semangat (padhanakkhamo hoti)
  4. Dengan melakukan meditasi jalan, sirkulasi darah akan menjadi lancar sehingga tidak terbelenggu dalam kemalasan. Oleh karena itu, cankamana juga telah disebutkan mampu mengusir rasa ngantuk. Dalam hal ini, saran yang diberikan adalah mengamati atau memandangi jalan untuk cankamana, menjaga indra dengan baik dan tidak membiarkan pikiran berkeliaran begitu saja.

  5. Ia menjadi sehat (appabadho hoti)
  6. Cankamana adalah bentuk olah raga bagi para bhikkhu. Dengan demikian, ketika seorang bhikkhu atau siapa saja yang rajin melakukan cankamana, dia akan menjadi orang yang sehat dan terbebas dari penyakit.

  7. Apa yang ia makan, minum, konsumsi, dan rasakan dapat dicerna dengan baik (asitam p?tam khayitam sayitam samma parinamam gacchati)
  8. Banyak penyakit yang muncul dalam tubuh karena makanan yang tidak sehat atau tidak tercerna dengan baik. Dengan bermeditasi jalan, sistem pencernaan dapat berjalan dengan baik dan terhindar dari berbagai macam gangguan.

  9. Konsentrasi yang dicapai melalui meditasi berjalan bertahan lama (cankamadhigato samadhi ciratthitiko hoti)

Jika seseorang telah memperoleh gambaran (konsentrasi) sewaktu berdiri, gambaran itu hilang ketika ia duduk. Jika ia telah memperoleh gambaran itu sewaktu duduk, gambaran itu hilang ketika ia berbaring. Tetapi pada seseorang yang bertekad pada berjalan mondar-mandir dan memperoleh gambaran dalam objek yang bergerak, gambaran itu tidak hilang ketika ia berdiri diam, duduk, dan berbaring. Hal ini dapat terjadi karena dalam cankamana seseorang dihadapkan pada berbagai objek yang selalu datang silih berganti. Namun, dia tetap memiliki perhatian (sati) terhadap objek yang muncul dan lenyap tiada henti. Ketika dilanjutkan dengan meditasi duduk dan mengamati objek yang lebih terbatas, dia akan terlatih dan mudah melakukannya.
 Meditasi berjalan dengan penuh perhatian dan penyadaran, telah terbukti sangat bermanfaat bagi kesehatan jasmani serta menunjang pengembangan batin. Apa pun yang dialami saat sedang berjalan, dapat juga dialami saat sedang duduk, berdiri, berbaring atau melakukan aktivitas keseharian. Seseorang dapat merasakan kegiuran, ketenangan, dan bahkan mencapai kesucian. Semua itu dapat terjadi saat sedang melakukan cankamana. Dengan mempraktikkan cankamana dalam kehidupan sehari-hari, ajaran Buddha dapat dilestarikan dan dipertahankan eksistensinya sepanjang masa.
  
Pustaka Rujukan
Anguttara Nikaya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.

Dibaca : 3139 kali