x

MANFAAT MENDENGARKAN DHAMMA

Kalena dhammassavanam
etammangalamuttamam, ti.

Mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai,
itulah berkah utama
(Mangala Sutta, Khuddakapatha)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Memiliki kesempatan untuk mendengarkan Dhamma adalah sebuah keberuntungan. Mendengarkan Dhamma merupakan salah satu kewajiban kita sebagai umat Buddha untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang kita miliki. Sang Buddha sangat menekankan pentingnya mendengar dan membahas Dhamma, "Kalena dhammassavanam etammangalamuttamam: mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai itulah berkah utama". Seperti yang tertulis di dalam Mangala Sutta, dikatakan sebagai berkah utama sebab, dengan kita mendengarkan Dhamma kita akan menjadi mengerti dan memahami Dhamma ajaran Sang Buddha. Di mana Dhamma ajaran Sang Buddhatersebut adalah ajaran yang indah pada awalnya, ajaran yang indah pada pertengahannya, dan ajaran yang indah pada akhirnya, adalah ajaran yang luhur, yang sangat langka untuk dijumpai. Di dalam Dhammapada, Buddha Vagga, 182, dikatakan bahwa sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Dhamma "Kiccham saddhammassavanam" karena Dhamma yang sejati adalah Dhamma ajaran Sang Buddha, di dalam Dhammapada yang sama juga dikatakan "sungguh sulit munculnya seorang Buddha" "Kiccho Buddhanamuppado". Oleh karena itu dengan mendengarkan khotbah-khotbah Dhamma, maka akan memunculkan kebijaksanaan "panna" yang akan menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Pada awalnya Sang Buddha enggan untuk mengajarkan Dhamma pada yang lainnya. Dikisahkan pada Brahmayacanasutta, Pathamavagga, Brahmasamyutta, Sagathavaggasamyutta, Samyuttanikaya, Suttapitaka, ketika Sang Buddha sedang berada di bawah pohon ajapalanigrodha, di mana Sang Buddha merenung bahwa sesungguhnya Dhamma ini begitu mendalam, sangat sulit untuk dimengerti, sangat sulit untuk dipahami, damai, luhur, halus, dan sepatutnya dialami oleh para bijaksana.

Kemudian sesosok Brahma Sahampati dengan tubuhnya yang bercahaya terang gemilang, tiba-tiba turun dari alam brahma dan berdiri di hadapan Sang Buddha. Setelah memberi hormat kepada Sang Buddha, lalu Brahma Sahampatimemohon kepada Sang Buddha agar Sang Buddha mau mengajarkan Dhamma, karena sesungguhnya masih ada makhluk-makhluk yang beragam kualitasnya, akan ada yang memperoleh manfaat dari mendengarkan Dhamma. Sang Buddha pun menyetujui dan mulai berkenan untuk mengajarkan Dhamma kepada para makhluk. Hingga, Dhamma yang diajarkan tersebut masih kita pelajari hingga sekarang ini, dan Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha tersebut masih dapat kita praktikkan di dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini.

Dhammakathika ini bisa dijuluki orang yang membabarkan Dhamma, karena Dhammakathika memiliki arti "pembabar Dhamma". Seseorang yang membabarkan Dhamma adalah dikatakan sebagai pemberian yang tertinggi. Ada banyak jenis-jenis dana yang kita ketahui, misalnya, amisadana: dana berupa materi, abhayadana: dana berupa ketidaktakutan atau kehidupan, dan Dhammadana: dana berupa ajaran atau pengetahuan. Dari ketiga jenis contoh dana tersebut, Dhammadana adalah yang tertinggi, "Sabbadanam Dhammadanam jinati: berdana Dhamma berarti berdana pengetahuan yang benar". Disebut tertinggi karena pemberian pengetahuan yang benar dapat menjadikan seseorang menjadi lebih baik dan bijaksana.

Hidup di masa sekarang ini kita sangat beruntung karena memiliki kesempatan yang baik bisa mendengar atau belajar Dhamma. Tidak hanya melalui khotbah formal di vihara, melainkan juga lewat media daring. Sehingga, untuk men-dengarkan Dhamma, kita tidak perlu lagi pergi keluar rumah. Kita hanya perlu duduk yang tenang, beserta kuota dan membaca atau mendengar dengan penuh perhatian. Akan tetapi, sangat baik sekali jika kita tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengar Dhamma secara langsung di vihara. Mendengar dan membahas Dhamma dengan sungguh-sungguh serta penuh perhatian akan membawa berkah utama dan keuntungan besar dalam kehidupan ini yang akan menuntun kita terbebas dari ketidaktahuan.

Kita sering mendengar bahwa, banyak sekali siswa Sang Buddha yang mencapai tingkat-tingkat kesucian, hanya dengan mendengar-kan khotbah-khotbah Dhamma secara langsung dari Sang Buddha pada waktu itu, baik itu tingkat kesucian pertama maupun sampai mencapai tingkat kesucian yang tertinggi, yaitu: Sotapana, Sakadagami, Anagami, dan Arahata. Ini adalah salah satu bukti yang dapat kita jadikan sebagai contoh agar kita selalu melangkah di jalan Dhamma seperti yang telah ditunjukkan oleh Sang Buddha, sehingga kita tidak akan menyia-nyiakan kehidupan kita yang sementara ini dengan selalu melakukan perbuatan kebajikan, yang membawa manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Lima Manfaat Mendengarkan Dhamma
Mendengar Dhamma tentu memberikan banyak manfaat. Di dalam Dhammassavanasutta, Kimilavagga, kelompok lima Anguttaranikaya, Suttapitaka, terdapat lima manfaat mendengarkan Dhamma, yaitu:

  • Assutam Sunati "Dapat mendengar Dhamma, yang sebelumnya belum pernah didengar"

Di sini, dengan mendengarkan Dhamma, seseorang bisa menambah wawasan dan pengetahuan. Kita dapat mendengar apa yang belum pernah didengar sebelumnya, akan menjadi manfaat yang baru untuk kita renungkan dan praktikkan. Kita akan mendapatkan pengetahuan baru tentang Dhamma. Semakin sering mendengarkan Dhamma, maka semakin banyak pula pengetahuan Dhamma yang dapat kita miliki. Dengan demikian pengetahuan kita sudah bertambah.

  • Suttam Pariyodapati "Setelah mendengarkan Dhamma sebelumnya, ada yang belum jelas, dengan mendengarkan kembali akan menjadi lebih jelas"

Dalam hal ini ada kalanya, kita sulit mengerti saat pertama kita mendengarkan pembabaran Dhamma tentang suatu hal. Namun, kita bisa memahaminya ketika diulang beberapa kali. Dengan begitu apa yang kurang jelas dapat menjadi lebih jelas. Misalnya, saat pertama kita mendengar tentang pengembangan cinta kasih ke sepuluh penjuru. Kita belum paham tentang cinta kasih seperti apa yang perlu dikembangkan. Namun, setelah mendengarkan berulang, akhirnya cinta kasih yang perlu dikembangkan adalah cinta kasih tanpa noda, yang mengharapkan kebahagiaan bagi semua makhluk. Dengan demikian, maka inti uraian Dhamma tersebut akan menjadi lebih mudah dilihat.

  • Kankham vitarati "Menghilangkan Keragu-raguan"

Keraguan memang menjadi penghambat dalam mencapai tujuan. Terlebih, jika kita ragu mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan sering mendengarkan Dhamma, kita tidak lagi menyimpan keraguan, karena menjadi mantap dalam pemahaman.
Di tahapan ini, keragu-raguan akan kebenaran Dhamma telah berhasil disingkirkan. Dalam hal ini, belenggu batin keragu-raguan akan kebenaran Dhamma sudah terhapuskan, sehingga setiap pikiran, ucapan, maupun tindakan badan jasmani telah terfilter dengan baik. Kita tak akan pernah kecewa, sedih ataupun sakit hati, seandainya dicela ataupun tidak dihargai. Dengan demikian keragu-raguan kita terhadap Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha) dapat hilang dan keyakinan dapat bertambah.

  • Ditthim Ujum Karoti "Meluruskan Pandangan"

Ketika kita terjebak dalam pandangan salah, misalnya menganggap bahwa diri ini adalah kekal selamanya, kita akan sulit praktik Dhamma dengan baik. Maka kita perlu meluruskan pandangan kita yang keliru, walaupun memang sulit. Namun, sering mendengar Dhamma yang murni adalah salah satu cara yang bisa digunakan untuk meluruskan pandangan yang keliru tersebut, sehingga muncul pengertian yang benar sesuai Dhamma. Ketika seseorang terbebas dari pendangan salah atau keliru, tentunya di sini sudah memiliki pandangan hidup yang benar.
Dengan dimilikinya pandangan hidup yang benar, maka kita akan mampu melihat segala sesuatu atas dasar apa adanya, dan di saat memutuskan suatu perihal tanpa lagi diboncengi oleh unsur kemelekatan. Dalam hal ini, kebijaksanaan sudah mulai meningkat. Hidup pun akan semakin semangat dan tidak akan pernah terpengaruh oleh hasutan maupun gosipan.

  • Cittamassa Pasidati "Menjernihkan Batin"

Di tahapan ini, batin yang jernih dan tenang merupakan satu kondisi yang sangat baik. Dengan batin yang tenang, kita bisa melihat lebih jelas segala fenomena di lima gugusan pembentuk. Hal yang sangat sulit dilakukan bilamana batin bergejolak. Dengan sering mendengarkan Dhamma, sepatutnya mengondisikan batin kita tetap jernih, tetap tenang, dan tidak sering bergejolak.
Di dalam Theragatha 141, Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu "Keinginan untuk belajar akan meningkatkan pengetahuan, pengetahuan akan meningkatkan kebijaksanaan, tujuan dapat diketahui, mengetahui tujuan akan membawa kebahagiaan". Dalam hal ini yang dimaksud adalah bagaimana seseorang memiliki niat atau semangat untuk belajar Dhamma, sehingga dengan demikian pengetahuan yang ia miliki secara tidak langsung akan bertambah. Dengan pengetahuan yang diperoleh akan menumbuhkan kebijaksanaan, sehingga mencapai kebahagiaan baik secara duniawi maupun spiritual. Di dalam Dhammapada, Sang Buddha bersabda "Orang yang dapat menghayati Dhamma, hidupnya berbahagia, pikirannya selalu tenang dan seimbang. Seperti halnya orang bijaksana, yang selalu gembira dalam menghayati Dhamma, yang dibabarkan oleh para Ariya".
Dengan demikian, lima manfaat mendengarkan Dhamma tersebut menghentikan ketidaktahuan kita pada hal-hal tersebut. Pemahaman yang kita dapatkan itu akan menghancurkan kegelapan ketidaktahuan yang kita miliki, sehingga kita memperoleh manfaat, pengetahuan, dan wawasan yang baru. Selanjutnya kita mempraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari untuk menumbuhkan keyakinan "Saddha" yang kuat terhadap Dhamma ajaran Sang Buddha.

Kesimpulan
Mendengarkan Dhamma akan memberikan manfaat yang besar. Kita dapat memperoleh pengetahuan, wawasan yang baru dari mendengar apa yang belum pernah kita dengar. Kita akan dapat memperjelas lagi yang sudah didengar. Kita akan menghilangkan keragu-raguan terhadap Tiratana. Kita juga dapat menumbuhkan pandangan benar atau meluruskan pandangan yang keliru yang kita miliki sebelumnya. Akhirnya dengan mendengarkan Dhamma, seseorang menjadi lebih tenang dan bergembira. Kita menjadi puas karena kita telah mempraktikkan Dhamma dengan baik.

Sumber:

  • Buku Kitab Suci Anguttara Nikaya.
  • Dhammadhiro, 2019. Paritta Suci. Jakarta. Yayasan Sangha Theravada Indonesia.
  • Kyokai, D, B. 2005. The Dhammapada. Burma: Dewi Kayana Abadi.

Dibaca : 2041 kali