x

PENCARIAN MULIA

Suppabuddhaṁ pabujjhanti, sadā gotamasāvakā, yesaṁ divā ca ratto ca, niccaṁ kāyagatā sati.

Mereka yang senantiasa merenungkan tubuh siang dan malam adalah para siswa Gotama, mencapai pencerahan dengan baik sepanjang masa.

(Dhammapada 299)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Membicarakan tentang pencarian mulia, maka kita tidak bisa memisahkan dari kehidupan Sang Buddha. Dikisahkan bahwa Guru Agung kita, Sang Buddha, sebelumnya adalah seorang pangeran bernama Siddhattha. Beliau lahir di keluarga kerajaan, Ayah-Nya adalah Raja Suddhodana dan Ibu-Nya adalah Ratu Mahāmāyā. Lahir di keluarga kerajaan, memungkinkan Pangeran Siddhattha dibesarkan dengan penuh kelembutan dan kemewahan. Kolam-kolam dibangun hanya demi kesenangan Pangeran Siddhattha. Di salah satu kolam teratai biru bermekaran, di kolam lainnya teratai merah dan di kolam ke tiga teratai putih. Pangeran Siddhattha hanya memakai penutup kepala dan menggunakan kain kualitas terbaik dari Kāsi. Pangeran Siddhattha juga memiliki tiga istana yaitu istana musim dingin, istana musim hujan, dan istana musim panas. Saat musim dingin tiba, selama empat bulan Pangeran Siddhattha akan tinggal di istana musim dingin. Ketika musim hujan dan musim panas tiba, Pangeran Siddhattha akan melewatkan empat bulan di istana musim hujan dan empat bulan di istana musim panas (Sukhumālasuttaṃ, Aṅguttara Nikāya 3.39). Kehidupan Pangeran Siddhattha dijalani dengan kemewahan, tetapi yang menarik adalah Pangeran Siddhattha justru meninggalkan kemewahan sebagai perumah tangga.

Dasar yang membuat Pangeran Siddhattha meninggalkan segala kemewahan tidak lain adalah melihat orangtua, melihat orang sakit, dan melihat orang meninggal. Melihat orang tua, orang sakit dan orang meninggal, Pangeran Siddhattha merenung, Aku juga tunduk pada penuaan, tunduk pada penyakit, dan tunduk pada kematian. Ketika diri-Ku sendiri tunduk pada penuaan, tunduk pada penyakit, dan tunduk pada kematian, mencari apa yang tunduk pada penuaan, tunduk pada penyakit, dan tunduk pada kematian adalah bukan pencarian mulia. Berangkat dari sinilah Pangeran Siddhattha, mencukur rambut dan janggut, mengenakan jubah kuning dan pergi meninggalkan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah untuk mencari kehidupan mulia (Ariyapariyesanā sutta, Majjhima Nikāya 26).

Keputusan Pangeran Siddhattha pergi meninggalkan kemewahan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah adalah ciri keluhuran seorang Bodhisatta. Kita mungkin saja belum siap, walaupun demikian, merenungkan usia tua, penyakit, dan kematian patut dikembangkan. Hal ini juga ditegaskan Pangeran Siddhattha setelah menjadi Buddha.

Melihat orang tua, kita merenung, aku juga tunduk pada penuaan, dan tidak terbebas dari penuaan. Saat berumur delapan puluh, sembilan puluh atau seratus tahun, aku akan lemah, bungkuk, berjalan terhuyung-huyung dengan ditopang tongkat, gigi tanggal, rambut memutih dan kulit keriput. Melihat orang sakit, kita merenung, aku juga bisa sakit keras, menderita, berbaring di atas kotoran dan air kencing sendiri, yang harus diangkat dan dibaringkan oleh beberapa orang. Melihat orang meninggal, kita pun merenung, aku juga akan meninggal, setelah satu, dua atau tiga hari setelah meninggal, tubuh akan membengkak, memucat, dan bernanah. Karena merenungkan usia tua, penyakit, dan kematian, memungkinkan kita untuk meninggalkan atau setidaknya mengurangi kemabukan kita pada usia muda, kemabukan pada kesehatan dan kemabukan pada kehidupan.

Tetapi kebalikannya bisa saja terjadi, karena kita gagal mengenali dan merenungkan tentang usia tua, penyakit, dan kematian, membuat kita lalai, berperilaku sembrono, sehingga terlibat dalam perbuatan buruk melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, pada akhirnya perbuatan buruk tersebut memberikan akibat yang buruk, setelah jasmani hancur, lahir di alam sengsara, di alam tujuan yang buruk, di alam rendah (Devadūtasuttaṃ, Aṅguttara Nikāya 3.36).

Mengetahui kenyataan bahwa kita tidak bebas dari usia tua, penyakit, dan kematian, maka sebelum usia tua, penyakit dan kematian datang, tugas kita adalah menyadarkan diri agar senantiasa melakukan perbuatan- perbuatan baik. Hukum kamma menetapkan bahwa perbuatan baik mengarah pada kebahagiaan, kesejahteraan, dan kelahiran yang baik, sedangkan perbuatan buruk mengarah pada penderitaan, kesakitan, kesedihan, dan menuju kelahiran sengsara. Perbuatan-perbuatan baik ini jika dilatih dikembangkan dan dipraktikkan mampu memicu dan membantu dalam memperoleh kehidupan mulia. Perbuatan baik tersebut adalah keyakinan (saddhā), moralitas (sīla), kedermawanan (cāga), dan kebijaksanaan (pañña).

Para siswa mulia memiliki keyakinan kokoh terhadap Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, kita pun semestinya memperkuat keyakinan. Sutta yang memberikan gambaran bagaimana agar keyakinan kita berkembang adalah Vīmaṁsaka sutta, Majjhima Nikāya 47. Ketika kita tidak mampu mengetahui pikiran Sang Buddha bahwa Beliau tercerahkan sempurna, maka Sang Buddha menyarankan kita untuk menyelidiki-Nya sehubungan dengan dua kondisi yaitu kondisi yang dapat dikenali melalui mata dan kondisi yang dapat dikenali melalui telinga. Majjhima Aṭṭhakathā (MA) menjelas- kan, bahwa perbuatan-perbuatan jasmani adalah kondisi- kondisi yang dikenali melalui mata dan kata-kata adalah kondisi-kondisi yang dikenali melalui telinga. Seperti halnya seseorang menyimpulkan adanya ikan dari riakan dan gelembung air, demikian pula dari perbuatan atau ucapan kotor seseorang dapat menyimpulkan bahwa pikiran yang menjadi sumbernya juga kotor. Dan akhirnya keyakinan yang didasari oleh penyelidikan akan mengakar kuat, “Para bhikkhu, ketika keyakinan siapa pun telah ditanam, berakar dan kokoh dalam Sang Tathāgata melalui alasan-alasan, kata-kata, dan frasa-frasa ini, keyakinannya dikatakan sebagai didukung oleh alasan-alasan, berakar dalam penglihatan, kokoh, tidak terkalahkan oleh petapa atau brahmana mana pun atau dewa atau Mara atau Brahma, atau siapa pun di dunia ini. Itulah para bhikkhu, bagaimana terdapat suatu penyelidikan terhadap Sang Tathāgata sesuai Dhamma, dan itulah bagaimana Sang Bhagavā diselidiki dengan baik sesuai Dhamma”.

Moralitas patut dijaga dan dikembangkan terus-menerus. Hal ini karena para siswa mulia memiliki moralitas yang tanpa noda dan tidak rusak. Seperti yang dinyatakan Sang Buddha, para siswa mulia (seorang pemasuk-arus) selain memiliki keyakinan yang kokoh terhadap Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, juga memiliki moralitas yang disenangi para mulia, tidak rusak, tidak robek, tanpa noda, tanpa lurik, membebaskan, dipuji oleh para bijaksana, tidak digenggam, menuntun menuju konsentrasi (Sotāpattisaṃyutta, Saṃyutta Nikāya 55.2). Cara yang dapat kita lakukan agar moralitas kita berkembang adalah mengembangkan hiri (rasa malu berbuat buruk) dan ottappa (rasa takut akibat perbuatan buruk). Orang yang memiliki hiri dan ottappa dapat mengendalikan dirinya dari berpikir buruk, berbicara buruk, dan berperilaku buruk melalui jasmani. Inilah mengapa hiri dan ottappa jika ditegakkan mampu menjadi pelindung dunia (Cariyasuttaṃ, Aṅguttara Nikāya 2.9).

Memiliki kedermawanan dapat membawa manfaat kebahagiaan jangka panjang. Sumanasuttaṃ (Aṅguttara Nikāya 5. 31) menjelaskan, bahwa jika ada dua orang yang memiliki keyakinan, moralitas dan kebijaksanaan setara, tetapi yang satu suka dermawan yang satu tidak dermawan, maka ketika sama-sama lahir di alam dewa, yang dermawan akan mengungguli yang tidak dermawan dalam lima hal yaitu umur kehidupan surgawi, kecantikan surgawi, kebahagiaan surgawi, keagungan surgawi, dan kekuasaan surgawi. Ketika mereka meninggal dari alam dewa dan lahir di alam manusia, yang suka dermawan juga akan mengungguli yang tidak dermawan dalam lima hal, yaitu umur kehidupan manusia, kecantikan manusia, kebahagiaan manusia, keagungan manusia, dan kekuasaan manusia. Jika kedua orang ini meninggalkan keduniawian, yang suka dermawan juga akan mengungguli yang tidak dermawan dalam lima hal yaitu mengenakan jubah, makan makanan, menempati tempat tinggal, dan menggunakan obat-obatan secara khusus dipersembahkan, ia juga akan diperlakukan teman-temannya para bhikkhu dengan cara-cara yang me- nyenangkan. Demikianlah ke- dermawanan memberikan kesejahtera- an dalam jangka yang panjang bahkan ketika seorang menjadi bhikkhu.

Keyakinan, moralitas, dan kedermawanan membantu dalam mem- peroleh kebijaksanaan. Kebijaksanaan untuk melihat tubuh sebagaimana adanya yaitu tidak kekal, mengalami penderitaan dan bukan diri. Kulit menjadi keriput, rambut akan memutih, penglihatan bisa kabur, gigi tanggal adalah bukti nyata tubuh mengalami perubahan (anicca). Tubuh juga bisa terserang berbagai macam penyakit, seperti penyakit mata, penyakit kepala, penyakit tipes, penyakit cacar air, penyakit kuning, penyakit borok, penyakit bisul, penyakit kadas dan berbagai penyakit lainnya, ini juga menandakan tubuh mengalami perubahan (anicca). Karena tubuh mengalami perubahan (anicca), maka dapat memunculkan ketidakpuasan, kesedihan, penderitaan (dukkha), dan apa yang menimbulkan ketidakpuasan, kesedihan dan penderitaan (dukkha) adalah bukan diri (anatta). Merenungkan tubuh sebagai yang tidak kekal, mengalami penderitaan dan bukan diri mampu mengantar seseorang menjadi manusia mulia. Seperti yang disampaikan Yang Mulia Sāriputta kepada Yang Mulia Mahākoṭṭhita. Sahabat Koṭṭhita, seorang bhikkhu yang bermoral harus memperhatikan dengan saksama lima kelompok unsur kehidupan yang menjadi subjek kemelekatan ini sebagai tidak kekal (anicca), penderitaan (dukkha), dan bukan diri (anatta). Ketika seorang bhikkhu yang bermoral memperhatikan dengan saksama lima kelompok unsur kehidupan yang menjadi subjek kemelekatan ini sebagai yang tidak kekal, mengalami penderitaan dan bukan diri adalah mungkin ia dapat menembus buah pemasuk-arus (sotāpanna). Begitu juga, untuk mencapai Yang-kembali-sekali (sakadāgāmi), Yang-tidak-kembali (anāgāmi), dan menembus buah (arahanta), memperhatikan dengan saksama lima kelompok unsur kehidupan yang menjadi subjek kemelekatan ini sebagai yang tidak kekal, mengalami penderitaan dan bukan diri (Khandhasaṃyutta, Saṃyutta Nikāya 22.122).

Pada akhirnya pencarian mulia adalah pencarian yang mengarah pada pencapaian kesucian. Seandainya pun kita tidak mencontoh Pangeran Siddhattha untuk pergi meninggalkan rumah menuju kehidupan tanpa rumah, merenungkan tubuh sebagai yang tidak kekal, mengalami penderitaan dan bukan diri patut untuk dikembangkan. “Mereka yang senantiasa merenungkan tubuh siang dan malam adalah para siswa Gotama, mencapai pencerahan dengan baik sepanjang masa” (Dhammapada syair 299). Yang dimaksud merenungkan tubuh adalah menghayati tubuh berdasarkan sifatnya; rapuh (ādīnava), tidak indah, kotor (asubha), tidak kekal (anicca), dan bukan diri (anatta). Semoga kita maju dalam Dhamma, semoga semua makhluk berbahagia.


Pustaka Rujukan:
  • Bhikkhu Dhammadhīro (penerjemah), 2014.Pustaka Dhammapada Pāli - Indonesia. Jakarta: Saṅgha Theravāda Indonesia.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2015. Aṅguttara Nikāya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2013. Majjhima Nikāya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2010. Saṃyutta Nikāya. Jakarta: DhammaCitta.

Dibaca : 1460 kali