x

D E S A N A V I D H I

Evambuddham sarantanam dhammam sanghanca bhikkhavo.
bhayam va chambhitattam va lomahamso na hessati'ti.

Demikianlah, wahai para bhikkhu, saat kalian mengingat Sang Buddha, Dhamma, dan Sangha;
Baik ketakutan, kengerian, ataupun geridik bulu tubuh tidak akan muncul.

(Dhajagga Sutta, Samyutta Nikaya)


    DOWNLOAD AUDIO

Unduh PDF

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

(Ciri Sang Buddha dalam mengajar Dhamma)

Kondisi masyarakat India pada 2500 tahun yang lalu sangatlah majemuk. Satu individu dengan individu lainnya dapat dibedakan berdasarkan latar belakang keluarga, kasta, kekayaan yang dimiliki, bahkan guru yang diikuti. Dengan adanya kesenjangan ini, tidak jarang muncul penindasan terhadap pihak yang dipandang lebih rendah, ataupun terjadi pertikaian antar kelompok yang memiliki pengaruh di masyarakat.

Keberadaan Sang Buddha mem-bawa angin perubahan terhadap kesenjangan yang telah tertanam erat di lingkungan masyarakat. Sebagai guru yang telah dikenal oleh banyak orang dari berbagai macam latar belakang, Beliau tidak pernah sekalipun membeda-bedakan lawan bicara-Nya. Semua orang-bahkan semua makhluk-dianggap sama bagi Sang Buddha, sehingga tidak jarang beberapa pihak dari ajaran lain mencoba untuk melakukan hal-hal buruk kepada Sang buddha. Tentunya segala tindakan itu dilakukan untuk menekan pengaruh Sang Buddha bagi para perumah tangga yang menaruh keyakinan pada Beliau. Terlepas dari semua hal itu, Sang Buddha sendiri tetap memandang semua orang dengan cara yang sama.

Telah diketahui bahwa murid-murid Sang Buddha, apakah para bhikkhu ataupun perumah tangga, datang dari kasta yang beragam, dan memiliki latar belakangnya masing-masing. Akan tetapi tidak pernah sekalipun ada anggapan lebih tinggi ataupun lebih rendah dari Sang Buddha atas hal tersebut. Apakah Raja Bimbisara yang merupakan penguasa kerajaan Magadha, ataupun Sunita seorang pemuda dari keluarga pemulung bunga. Bahkan Sang Buddha juga tidak enggan untuk menemui Angulimala, pembunuh berkalung jari, juga berdiskusi dengan Upali, seorang perumah tangga yang awalnya merupakan pengikut Nigantha Nataputta. Semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk bertegur-sapa, berdiskusi, dan mendengarkan Dhamma secara langsung dari Sang Buddha. Tentu tidak hanya manusia saja yang mendapatkan kesempatan berbicara dengan-Nya, para dewa dan brahma juga memiliki kesempatan tersebut.

Bagi Sang Buddha tidak ada yang spesial dari status sebagai raja, pemulung bunga, pembunuh, pengikut ajaran lain, ataupun status sosial yang lain. Alasan utama mengapa Sang Buddha berbicara dan mengarahkan seseorang adalah karena orang tersebut memiliki ke-sempatan dan kualitas untuk menembus Dhamma yang diajarkan Sang Buddha. Sang Buddha tidak hanya memberikan kesempatan yang sama bagi siapapun untuk berbicara dengan Beliau. Beliau juga memiliki tata cara atau ciri yang sama dalam memperlakukan semua makhluk. Beberapa contohnya bisa dilihat dalam So?ada??a Sutta, K??adanta Sutta, dan Mahaparinibbana Sutta. Di sutta-sutta tersebut tercatat beberapa ciri yang dimiliki oleh Sang Buddha dan juga para siswa utama beliau dalam menjelaskan Dhamma, yang tidak pernah berbeda kepada siapapun lawan bicaranya. Keempat ciri membabarkan Dhamma (Desanavidhi) tersebut antara lain:

  • Sandassana/menunjukkan

Sang buddha selalu melihat sisi manfaat dari apa yang akan disampai-kan. Manfaat yang dimaksudkan di sini mengarah pada manfaat untuk pelenyapan pengotor batin, menuju akhir dukkha. Beliau menunjukkan apa yang sepatutnya dikembangkan dan apa yang tidak patut untuk dijalankan. Selain dari hal tersebut, Sang Buddha tidak akan melebih-lebihkan atau mengurangi nilai-nilai Dhamma dari apa yang disampaikan, sehingga tidak ada satu pembicaraan pun yang tidak mengarah pada pembebasan. Apapun yang diajarkan-Nya, Sang Buddha akan menjelaskan alasan dibalik pernyataan Beliau agar pendengarnya bisa memahami secara jelas apa yang dimaksud. Sang Buddha membimbing pendengarnya agar dapat melihat sendiri apa yang dijelaskan oleh Beliau.

  • Samadapana/menandaskan

Samadapana berarti menekankan hal-hal yang perlu ditekankan. Sang Buddha mengajar dengan cara mem-buat siapapun yang mendengarkan ajaran-Nya melihat hal-hal penting yang patut untuk dilakukan juga untuk menghargai nilai-nilai luhur Dhamma. Pada akhirnya siapapun yang mendengarkan Dhamma men-jadi yakin kepada Tiratana dan termotivasi untuk mengimplementasi-kannya dalam praktik hidup sehari-hari. Sehingga jika dilihat lagi dari perbincangan Sang Buddha, sering-kali lawan bicaranya, meskipun pada awalnya tidak yakin pada ajaran Beliau, namun pada akhirnya ia menjadi yakin atas apa yang diajarkan Sang Buddha dan menjadi pengikut Beliau.

  • Samuttejana/persuasif

Sang Buddha menjelaskan Dhamma juga untuk memunculkan rasa antusias para pendengarnya. Beliau memberikan semangat agar siapapun yang mendengarkan Dhamma ter-sebut menjadi berminat dan memiliki tekad yang kuat untuk menyempurna-kan pelatihannya. Dalam beberapa kesempatan para bhikkhu yang masih berlatih masih memungkinkan untuk mendapatkan kendala-kendala dalam pelatihannya, namun dengan dorongan dan arahan dari Sang Buddha para bhikkhu tersebut menjadi lebih bersemangat dan mampu untuk melewati rintangan batin yang sedang dihadapi.

  • Sampahamsana/membuat puas

Dalam berbagai kesempatan, akhir dari pembicaraan Sang Buddha selalu berakhir dalam kesepakatan. Lawan bicara Beliau selalu menyetujui dan bersenang atas Dhamma yang diajar-kan Buddha. Sang Buddha mengajar-kan Dhamma yang indah pada awal, pertengahan, dan akhirnya, untuk memunculkan rasa puas dan gembira yang menginspirasi pendengarnya untuk lebih semangat dalam me-laksanakan pelatihan mereka.

Perlu ditekankan bahwa Sang Buddha memang sangat piawai dalam mengajarkan Dhamma, namun Beliau tidak mengajarkan Dhamma dengan memuji-muji lawan bicara-Nya demi popularitas, ataupun sekadar meng-gunakan kalimat-kalimat indah demi memikat lawan bicara-Nya. Persetujuan dan rasa puas dari pendengar Beliau yang muncul dari mendengar penjelasan Dhamma berlandaskan pada pemahaman yang benar dan mendalam atas penjelasan Sang Buddha. Beliau sendiri tidak memiliki niat untuk mengejar popularitas ataupun untuk mem-perbanyak pengikut. Penjelasan-Nya murni merupakan Dhamma yang sebagaimana adanya, yang menuntun pada akhir dukkha.
Demikianlah ciri Sang Buddha dalam memberikan dorongan dan arahan bagi para murid-Nya dan semua makhluk. Bukan hanya tidak membeda-bedakan lawan bicara-Nya, Beliau juga mengajarkan dengan cara yang sedemikian baik demi bangkitnya motivasi pendengarnya untuk mem-praktikkan dan menembus pemahaman Dhamma dan akhir dukkha.

 

Daftar Pustaka

  • Mingun, Anggara, Indra (Penerjemah). (2008). Riwayat Agung Para Buddha. Jakarta: Ehipassiko Foundation.
  • Walshe, Maurice. (2009). Khotbah-Khotbah Panjang Sang Buddha. Jakarta: Girimangala Publication.

Dibaca : 2121 kali