x

BAJIK DAN BIJAK DALAM BERDANA

Dānañ ca dhammacariyā ca, etammaṅgalamuttamaṃ.
Berdana dan hidup sesuai dengan Dhamma itulah berkah yang utama.
(Maṅgala Suttā)



    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam ajaran Buddha, praktik berdana merupakan fondasi dan benih perkembangan spiritualitas. Berdana menjadi salah satu upaya untuk mencapai tujuan dari ajaran Buddha yaitu menghancurkan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin. Agar memperoleh buah yang maksimal, ada hal yang menjadi sangat penting untuk dipahami bagi seseorang yang praktik berdana bahwa berdana tidak hanya tindakan secara fisik yang terlihat, melainkan juga niat di baliknya. Hasil yang diperoleh juga bergantung pada niat atau motifnya, apakah motifnya egois, tidak egois atau campuran dari keduanya. 

Berdana juga selaras dengan sifat-sifat atau kualitas-kualitas baik lainnya dan pada saat yang bersamaan sekaligus memperkuat kualitas-kualitas baik tersebut. Sebagai contoh, orang yang suka berdana akan mengembangkan dua kualitas baik ini yakni sifat melepas dalam artian mampu memberi dengan tulus, dan sifat welas asih berupa kepedulian untuk membantu meringankan penderitaan orang lain. Oleh karena itulah berdana juga sangat berhubungan dengan perilaku moral, bahwa dana yang diberikan seseorang tidak bertentangan dengan aturan-aturan moralitas. Bersamaan dengan ini, berdana juga berkaitan dengan kebijaksanaan, karena seseorang harus memberi dengan kebijaksanaan, bukan tanpa kebijaksanaan. 

Berhubungan dengan hal tersebut, maka dalam artikel ini akan membahas bagaimana cara-cara seseorang praktik agar secara bajik dan bijak dalam berdana. Mengenai hal ini Buddha dalam salah satu khotbahnya di dalam Aṅguttara Nikāya (V, 148) menjelaskan bahwa ada lima cara berdana yang baik, yakni: (1) berdana dengan keyakinan; (2) berdana dengan hormat; (3) berdana tepat waktu; (4) berdana dengan kemurahan hati; (5) berdana dengan tidak mencelakai.


Berdana Dengan Keyakinan
Seseorang yang memiliki keyakinan, ketika berdana pikiran akan diliputi kebahagiaan. Dalam buku penjelasan tentang suttānta yang disusun oleh Ashin Kheminda menyatakan bahwa ada tiga faktor yang hendaknya dikembangkan oleh seorang pemberi. Apakah tiga faktor dari si pemberi? (1) si pemberi bergembira sebelum memberi; (2) ia memiliki pikiran yang tenteram dan penuh kepercayaan dalam tindakan memberi; dan (3) ia bersukacita setelah memberi. Ini adalah ketiga faktor dari si pemberi (Chaḷaṅgadāna Sutta, Aṅguttara Nikāya 6. 37). Keyakinan juga dapat muncul karena mengetahui manfaat dari berdana. Memahami tentang hukum kamma bahwa berdana mendatangkan manfaat tidak hanya duniawi, tetapi juga spiritual. Ketika seseorang memiliki keyakinan, kebajikan yang telah dilatih akan dilakukan lagi dan lagi sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Sang Buddha mengatakan apabila seseorang berbuat bajik, hendaklah dia mengulangi perbuatannya itu dan ber-sukacita dengan perbuatannya itu, sungguh membahagiakan akibat dari memupuk perbuatan bajik (Dhammapada 118).


Berdana Dengan Rasa Hormat
Setelah seseorang memiliki keyakinan (saddhā), ia akan berdana dengan penuh rasa hormat. Berdana dengan rasa hormat, artinya bagaimana ketika berdana seseorang mampu menjaga ucapan dan sikap badan jasmaninya. Dalam Velāmasutta (A 9.20), Sang Buddha menjelaskan kepada Anāthapiṇḍika, bahwa sebenarnya bukanlah apa yang kita berikan yang diperhitungkan, tetapi bagaimana kita memberi dengan benar, yaitu memberi dengan hati-hati, memberi setelah beberapa pemikiran, memberi dengan tangan sendiri, tidak memberi seolah-olah membuang sesuatu dan memberi sehubungan dengan masa depan. Ketika berdana, seseorang juga tidak hanya menghormati siapa yang akan diberikan, tetapi juga menghormati orang-orang di sekelilingnya yang juga memiliki tujuan dan niat yang sama. 


Memberi Dengan Tepat Waktu
Sang Buddha menyatakan, para bhikkhu, ada lima pemberian yang tepat pada waktunya ini. Apakah lima ini? (1) seseorang memberikan pemberian kepada seorang tamu; (2) seseorang memberikan pemberian kepada seseorang yang melakukan perjalanan; (3) seseorang memberikan pemberian kepada pasien; (4) seseorang memberikan pemberian pada masa bencana kelaparan; (5) seseorang mempersembahkan kepada yang bermoral. Ini adalah kelima pemberian yang tepat pada waktunya itu (AN 5.36: Kāladāna Sutta). Dalam poin yang kelima dikatakan berdanalah kepada orang yang bermoral, lalu apakah kita tidak boleh memberi kepada yang tidak bermoral? Mengenai hal ini Sang Buddha pernah dituduh: “Apakah benar Sang Bhagava mengajarkan bahwa berdana kepada orang tidak punya moral itu tidak ada gunanya?” Sang Buddha kemudian menjawab:“Aku tidak pernah mengatakan bahwa berdana tidak ada gunanya, meskipun orang membuang sisa-sisa dari satu panci atau mangkuk ke dalam sebuah tambak atau telaga dan mengharap agar para makhluk hidup di dalamnya dapat memperoleh makanan, perbuatan ini pun merupakan sumber dari kebaikan, apalagi dana yang diberikan kepada sesama manusia”. Inilah yang Tathāgatā ajarkan, (Aṅguttara Nikāya III, 57).


Berdana Dengan Murah Hati
Berdana penuh dengan kemurahan hati artinya benar-benar dengan tujuan melepas, bebas dari kekikiran. Senang dalam berdana dan bersukacita dalam memberi. Praktik memberi tidak hanya berhubungan dengan materi, tetapi juga berhubungan dengan pemberian nasihat-nasihat yang baik atau berdana kebenaran (Dhamma). Sang Buddha mengatakan pemberian kebenaran (Dhamma) mengalahkan semua pemberian lainnya (Dhammapada, 354). Oleh karena itu seseorang yang membabarkan Dhamma hendaknya tidak membabarkan Dhamma demi keuntungan duniawi. Sang Buddha menekankan bahwa hendaknya seseorang yang membabarkan Dhamma adalah untuk dua hal yaitu; (1) demi manfaat bagi yang mendengarkan; dan (2) demi menghormati Dhamma.


Berdana Dengan Tanpa Mencelakai
Berdana bukan untuk merendahkan orang lain dan menyombongkan diri sendiri, sehingga seseorang yang berdana juga hendaknya dapat menjaga moralitasnya dengan baik. Menjadi sangat penting ketika berdana, materi yang didanakan tersebut tidak diperoleh dengan cara merugikan pihak lain. Walaupun berdana adalah perbuatan yang baik, tetapi juga harus dilakukan dengan bijak. Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan (Dhammapada 131). Seseorang menjalankan sīla adalah upaya untuk tidak mencelakai pihak lain dan diri sendiri. Dalam hal ini bagaimana agar seseorang berdana tidak mencelakai orang lain dan diri sendiri adalah hendaknya juga harus menjaga moralitasnya dengan baik.

Manfaat Berdana
Dalam banyak sutta Sang Buddha menyampaikan begitu banyaknya manfaat dari berdana. Buah dari berdana tidak hanya berhubungan dengan manfaat secara duniawi tetapi juga spiritual. Sang Buddha pernah menyatakan jika orang tahu hasil dari memberi derma, seperti hal Aku tahu, mereka tidak akan makan sebelum memberi, dan noda keakuan tak akan bertahan mencekik batin mereka (Itivuttaka. 2.6). Dalam (Aṅguttara Nikāya 4.256) Sang Buddha juga mengatakan praktik berdana menjadi salah satu dasar kemenarikan. Jika seseorang ingin orang lain tertarik dengannya, salah satu caranya adalah berdana. Seseorang menjadi tertarik oleh karena dia adalah orang yang murah hati. Dalam syair Dhammapada juga mengatakan berdana dapat menaklukkan kekikiran (Dhammapada. 223). Selain dapat menaklukkan kekikiran, berdana juga dapat melenyapkan kebencian (Sutta Nipāta, 506).


Kesimpulan
Praktik berdana sebagai fondasi dan benih tumbuhnya kualitas-kualitas bajik lainnya. Melalui praktik berdana, seseorang juga melatih sīla, dan bhāvanā. Berdana tidak hanya sekadar menyiapkan materi, tetapi juga batin seseorang yang berdana juga harus lebih siap sehingga hasilnya menjadi maksimal. Dalam Dhamma dikatakan berdana dengan keyakinan, berdana dengan rasa hormat, berdana dengan tepat waktu, berdana dengan murah hati, dan berdana dengan tidak mencelakai, maka seseorang akan memperoleh buah yang maksimal, dan ia telah praktik berdana secara bijak. Dengan demikian, praktik dana akan menjadi berkah seperti yang dinyatakan dalam Maṅgala Suttā "dānañ ca dhammacariyā ca, etammaṅgalamuttamaṃ: berdana dan hidup sesuai dengan Dhamma, itulah berkah yang utama".


Referensi:
Aṅguttara Nikāya (Kumpulan Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha), oleh Bhikkhu Bodhi-Dhammacitta Press, Jakarta Barat.
Ashin Kheminda. 2019. Penjelasan Suttanta. Yayasan Dhammavihari Buddhist Studies. Jakarta Barat.
Paritta Suci-Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia.
Wijano, Win. 2012. Dhammapada. Tanpa Kota. Bahussuta Society.
https://dhammacitta.org/teks/an/an5/an5.36-id-bodhi.html.
https://suttacentral.net/an9.20/id/anggara.

Dibaca : 2135 kali