x

3 HAL YANG PATUT DILAKUKAN

Sabbe dhammā anattāti, yadā paññāya passati,
atha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiyā.
(Aññāsikoṇḍaññattheragāthā)

Pada saat ia yang dengan kebijaksanaan melihat bahwa segala sesuatu 
adalah bukan diri, lalu jenuh pada penderitaan, 
itulah jalan menuju kesucian.


    DOWNLOAD AUDIO

Sebagai seorang yang memiliki keyakinan terhadap Dhamma ajaran Guru Agung Buddha, kita memiliki hal-hal yang sepatutnya untuk dilakukan oleh masing-masing individu. Hal pertama yaitu menghindari, meninggalkan perbuatan yang tidak baik. Hal kedua adalah melakukan kebajikan dan hal yang ketiga adalah berjuang mengakhiri belenggu (saṃyojana).

1. Menghindari dan Meninggalkan Kejahatan

Seorang yang memilih menjalani kehidupan sebagai perumah-tangga, setidaknya mempraktikkan lima latihan moralitas (pañcasīla) yaitu, bertekad melatih diri menghindari:

1. Pembunuhan makhluk hidup.
2. Pengambilan barang yang tidak diberikan.
3. Perbuatan asusila.
4. Ucapan yang tidak benar.
5. Minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

Awalnya latihan moralitas ini bisa saja terasa sulit untuk dijalankan, namun apabila dijalankan terus-menerus, maka latihan ini akan menjadi suatu kebiasaan, menjadi kecenderungan batin kita yang condong untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.


2. Melakukan Kebajikan

Ada banyak cara untuk melakukan kebajikan, salah satunya adalah dengan berdana. Terdapat tiga jenis praktik dāna yang dapat dilakukan, yakni:

a) Āmisa Dāna
Dāna yang dilakukan dengan memberi pemberian berupa materi. Contohnya memberikan makanan kepada mereka yang menderita kelaparan. Memberi alat-alat kesehatan seperti masker, obat-obatan kepada mereka yang membutuhkan.

b) Abhaya Dāna
Dāna yang dilakukan dengan memberi pemberian berupa rasa aman. Pemberian ini dapat berupa praktik sīla yang baik. Dengan memiliki moralitas yang baik, orang lain akan merasa aman berada di sekitar kita. Bisa juga menggunakan contoh yang sebelumnya, memberikan masker kepada mereka yang membutuhkan juga termasuk abhaya dāna, karena dengan memberikan masker juga dapat memunculkan rasa aman kepada mereka. 

c) Dhamma Dāna
Dāna yang dilakukan dengan memberi pemberian berupa Dhamma. Contohnya menyebarkan, membagikan buku-buku Dhamma kepada orang lain. Pemberian berupa Dhamma ini merupakan pemberian yang tertinggi. Akan tetapi, kita juga perlu berhati-hati dan memastikan kembali bahwa Dhamma yang diberikan itu apakah sesuai dengan yang Sang Buddha ajarkan atau justru bertentangan dengan yang diajarkan oleh beliau.

Ini adalah tiga jenis praktik dāna yang dapat kita lakukan. Kebajikan yang kita lakukan tidak hanya memberikan manfaat bagi diri kita sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi banyak makhluk.


3. Mengakhiri Belenggu
Mengarahkan diri untuk berjuang mengakhiri belenggu (saṃyojana). Berupaya setahap demi setahap, dimulai dari memfokuskan diri untuk mengakhiri belenggu yang pertama yaitu pandangan akan adanya suatu diri (sakkāyadiṭṭhi). Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melakukan penyelidikan terhadap pengalaman enam indra. Dengan landasan sīla yang baik, kita kemudian melakukan penyelidikan yang tentunya mesti disertai dengan ketekunan dan kebijaksanaan.


Salah satu kebijaksanaan yang telah diajarkan oleh Guru Agung Buddha yang dapat kita gunakan dalam melakukan penyelidikan adalah pemahaman bahwa segala sesuatu bukan-diri (sabbe dhammā anattāti). Mengambil kutipan khotbah Sang Buddha dalam Girimānandasutta, dikatakan bahwasanya:
“Bagaimanakah, wahai Ānanda, pemahaman tentang bukandiri? 
(Katamā cānanda, anattasaññā?)

Wahai Ānanda, seorang bhikkhu di ajaran ini, baik berdiam di hutan, berdiam di pangkal pohon, atau berdiam di gubuk kosong, menyaksikan demikian ini, (Idhānanda, bhikkhu araññagato vā rukkhamūlagato vā suññāgāragato vā iti paṭisañcikkhati) indera penglihat adalah bukan-diri. Objek-objek indera penglihat adalah bukan-diri. Indra pendengar adalah bukan-diri. Objek-objek indra pendengar adalah bukan-diri. Indra pencium adalah bukan-diri. Objek-objek indra pencium adalah bukan-diri. Indra pengecap adalah bukan-diri. Objek-objek indra pengecap adalah bukan-diri. Indra penyentuh adalah bukan-diri. Objek-objek indra penyentuh adalah bukan-diri. Indra pemikir adalah bukan-diri. Objek- objek indra pemikir adalah bukan-diri. (Cakkhu anattā, rūpā anattā, sotaṃ anattā, saddā anattā, ghānaṃ anattā, gandhā anattā, jivhā anattā, rasā anattā, kāyā anattā, phoṭṭhabbā anattā, mano anattā, dhammā anattāti.)”

Dengan berpegangan pada kebijaksanaan yang diperoleh dari pembelajaran ini, kita melakukan penyelidikan terhadap pengalaman enam indra untuk menyaksikan, mengetahui secara langsung realitas sejatinya, yaitu bukan-diri, anattā. Sebagai contoh, penyelidikan terhadap pengalaman melihat. Seorang yang belum mengakhiri belenggu pertama (sakkāyadiṭṭhi), akan beranggapan bahwa ada diri sehubungan dengan aktivitas melihat. Selidikilah hal ini dengan memeriksa langsung, apakah adanya diri sehubungan dengan aktivitas melihat adalah hal yang nyata adanya, ataukah itu hanya sebatas anggapan, kekeliruan batin dalam menilai fenomena pengalaman indra yang realitas sejatinya adalah tidak kekal, kosong, bergantung pada sebab-sebab, dan tidak ada diri, substansi (inti) yang dapat ditemukan? 

Demikian pula terhadap pengalaman indra yang lain, selidikilah dengan cara yang sama. Ketika seorang telah benar-benar menyaksikan, mengetahui secara langsung realitas sejatinya, bukan dari hasil pemikiran belaka ataupun hasil dari komentar batin, maka keyakinannya yang keliru, pandangannya yang keliru akan adanya suatu diri, tidak dapat lagi dipertahankan. Melanjutkan kutipan khotbah Sang Buddha dalam Girimānandasutta: 
“Demikianlah, ia menyaksikan kebukandirian pada landasan indra luar dan dalam ini. Ini, wahai Ānanda, disebut pemahaman tentang bukan-diri. 
(Iti imesu chasu ajjhattikabāhiresu āyatanesu anattānupassī viharati. Ayaṃ vuccatānanda, anattasaññā.)”

Simpulan
Inilah tiga hal yang patut dilakukan oleh mereka yang memiliki keyakinan terhadap Dhamma ajaran Guru Agung Buddha. Mulai dari mempraktikkan sīla sebagai pelatihan diri menghindari perbuatan yang tidak baik, mempraktikkan dāna sebagai salah satu cara melakukan kebajikan, dan mempraktikkan bhāvanā untuk mengakhiri belenggu. Ketiga praktik ini kita lakukan adalah demi satu tujuan, yaitu padamnya penderitaan. 



Daftar Pustaka:

Sujato. (2021, Oktober 23). Girimānandasutta. Diambil kembali dari Sutta Central: https://suttacentral.net/an10.60/en/sujato?layout=linebyline&reference=none¬es=asterisk&highlight=false&script=latin

Sujato. (2021, Oktober 26). Aññāsikoṇḍaññattheragāthā. Diambil kembali dari Sutta Central: https://suttacentral.net/thag15.1/en/sujato?layout=linebyline&reference=none¬es=none&highlight=false&script=latin

Dibaca : 1651 kali