x

TUJUAN DAN MANFAAT BERD?NA DENGAN PENGERTIAN, PEMAHAMAN SECARA BIJAKSANA

Dānaṃ dadantu saddhāya. Sīlaṃ rakkhantu sabbadā. Bhāvanābhiratā hontu.

“Berdānalah dengan penuh keyakinan!
Rawatlah sīla setiap saat! Gemarlah mengembangkan batin!”

 (DEVATĀ-UYYOJAN GĀTHĀ, Khuddaka Nikāya, Jātaka)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samm?sambuddhassa

Orang yang secara benar mencari nafkah kemudian memberikan sebagian kekayaannya kepada yang membutuhkan diumpamakan sebagai orang yang mempunyai dua mata, sedangkan orang yang hanya mengumpulkan kekayaan tetapi tidak melakukan perbuatan jasa diumpamakan sebagai orang bermata satu. Orang kaya yang menikmati hartanya sendiri tanpa berbagi disebut bagaikan orang yang menggali liang kuburnya sendiri.

Para bhikkhu, ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia ini. Apakah tiga ini?
(1) Orang buta (Andho),
(2) Orang bermata satu (Ekacakkhu), dan
(3) Orang bermata dua (Dvicakkhu).

(1) Dan apakah, para bhikkhu, orang buta? 
Di sini, seseorang tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang buta.

(2) Dan apakah orang bermata satu?
Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan ke-kayaan yang telah diperoleh, tetapi ia tidak memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata satu.

(3) Dan apakah orang bermata dua?
Di sini, seseorang memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat memperoleh kekayaan yang belum diperoleh atau meningkatkan kekayaan yang telah diperoleh, dan ia juga memiliki jenis mata yang dengannya ia dapat mengetahui kualitas-kualitas yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, kualitas-kualitas tercela dan tanpa cela, kualitas-kualitas hina dan mulia, kualitas-kualitas gelap dan terang dengan padanannya. Ini disebut orang bermata dua. Ini, para bhikkhu, adalah ketiga jenis orang itu yang terdapat di dunia.

Ia tidak memiliki kekayaan, juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan berjasa; si orang buta tanpa mata melemparkan lemparan tidak beruntung pada kedua sisi. orang yang digambarkan sebagai bermata satu adalah seorang munafik yang mencari kekayaan, kadang-kadang dengan cara yang baik, dan kadang-kadang dengan cara yang tidak baik. Dengan tin-dakan-tindakan mencuri dan menipu dan dengan ucapan-ucapan dusta, orang itu yang menikmati kenikmatan indria, mahir dalam menimbun kekayaan. Setelah pergi dari sini menuju neraka, orang bermata satu itu disiksa. Seorang bermata dua dikatakan sebagai orang dari jenis terbaik. Kekayaannya diperoleh melalui usahanya sendiri, dengan benda-benda yang diperoleh dengan jujur. Kemudian dengan kehendak terbaik ia memberi. Orang ini dengan pikiran yang tidak terbagi, ia pergi menuju alam yang baik di mana, setelah pergi, ia tidak bersedih.


Pengertian Berdana
Secara universal praktik memberi (berdana) dikenal sebagai salah satu keluhuran manusia yang paling mendasar. Terlebih dalam ajaran agama Buddha berdana memiliki tempat dan pengertian yang paling istimewa dan khusus, yaitu sebagai pondasi dan benih perkembangan spiritual. Dengan berdana kita membantu orang lain keluar dari kesulitan atau penderitaan. Berdana berarti pula mengurangi keserakahan dan keterikatan kita terhadap keduniawiaan. Jelasnya dana merupakan praktik langsung dari perbuatan baik, yang menjadi landasan dalam mencapai keinginan setiap orang, yaitu kehidupan yang penuh kebahagiaan dan kedamaian.
Seseorang yang berdana hendaknya mempunyai pengertian, pemahaman yang benar dengan memunculkan rasa senang dan bahagia agar tidak ada kemelekatan terhadap dana yang diberikan tersebut. Kalau kita melakukannya tanpa pengertian?pemahamaan dan bijaksana dengan jelas sebagai mana adanya akhirnya yang mun-cul adalah keakuannya bukan pengertian, pemahamaan yang benar dan bijaksana.


Tujuan Berdana Bagi Umat Buddha
Tujuan berdana bagi umat Buddha bukan untuk mendapatkan pahala, akan tetapi untuk membersihkan kilesa atau kekotoran dalam batin kita, keserakahan, dan kebencian. Karena pada saat kita berdana tidak mungkin muncul kebencian, pada saat kita memberi tidak akan muncul keserakahan.


Manfaat Perbuatan Baik /berdana
Berdana dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi siapa pun yang mempraktikkannya. Hal tersebut tertuang dalam A?guttara Nik?ya 4:57 yang me-nyatakan bahwa empat manfaat kebajikan dari berdana, khususnya berdana makanan yaitu:

1. ?yu? deti (umur panjang).
Memiliki usia panjang merupakan idaman bagi setiap orang, dari manusia bahkan hewan terkecil apa pun selalu menginginkan umur panjang. Banyak orang-orang mencari berbagai macam cara agar memiliki umur panjang.

2. Va??a? deti (wajah cantik/tampan).
Memiliki wajah yang cantik atau tampan juga merupakan dambaan setiap orang, seseorang akan bahagia jika memiliki rupa yang cantik atau wajah yang tampan. Berbeda halnya jika kita memiliki wajah buruk rupa, maka kita akan dicemooh, dikucilkan, bahkan jadi bahan hinaan orang lain. Di dalam agama Buddha, seseorang yang memiliki wajah yang cantik/tampan didapatkan karena beberapa sebab. Sebab tersebut bisa berupa penahanan diri dari kemarahan, kedengkian, kebencian, tanpa iri hati, sopan, ramah tamah dan murah senyum, maka kehidupan yang akan datang memiliki wajah yang cantik ataupun tampan.

3. Sukha? deti (kebahagiaan).
Setiap orang memiliki tujuan, cita-cita dan harapan ingin hidup bahagia. Dari sekian ribu ataupun juta-an manusia, bahkan binatang sekalipun ingin hidupnya bahagia. Tidak ada satu pun dari kita ingin hidup menderita. Jika seseorang ingin hidup bahagia, maka ia harus melaksanakan kebajikan. Kebajikan tersebut bisa berupa berdana, melaksanakan s?la, maupun sam?dhi. Dengan berdana makanan kita akan mengondisikan orang lain atau makhluk lain bahagia. Dengan orang lain bahagia suatu saat kita akan menerima buah kammanya yaitu berupa kebahagiaan.

4. Bala? deti (kekuatan).
Berdana adalah latihan untuk melepas apa yang kita miliki. Dengan melatih diri untuk melepas, maka seseorang akan memiliki kekuatan. Kekuatan di sini terbagi menjadi dua, yaitu kekuatan secara fisik maupun mental. Kekuatan fisik yang dimaksud berupa kesehatan jasmaniah seperti tidak gampang sakit-sakitan. Sedang-kan kekuatan mentalitas yaitu ke-kuatan berupa batiniah. Batiniah yang dimaksud di sini berupa pemahaman tentang Dhamma. Jika seseorang me-miliki pemahaman tentang Dhamma, maka batinnya tidak mudah goyah, tidak mudah tergoncang, sekalipun suatu saat berpisah dengan apa yang dicintai. Berbeda halnya dengan orang pelit, orang kikir, jarang mau berbagi, jika suatu saat kehilangan apa yang dicintai, maka ia mudah stres, frustasi, dan depresi. Oleh karena itu, berdana makanan mampu memberikan manfaat berupa kekuatan, baik secara fisik maupun batiniah.


Referensi:
-A?guttara Nik?ya. Terj. Bhikkhu Bodhi. Dhamamacitta Press. Khuddaka Nik?ya, J?taka
-KN 4:75 / Khuddaka Nik?ya 4, Itivuttaka 75, Avutthika Sutta

Dibaca : 3676 kali