x

EMPAT PERBUATAN LAYAK SISWA MULIA

Kālena dhammassavanaṁ, etammaṅgalamuttamaṁ.

Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai itulah Berkah Utama.

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samm?sambuddhassa

Suatu ketika Sang Bhagav? berkata kepada perumah tangga An?thapi??ika perumah tangga, ada empat hal ini yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan jarang diperoleh di dunia. Apakah empat ini?
  1. Seseorang berpikir: Semoga kekayaan mendatangiku dengan cara yang benar!.
  2. Setelah memperoleh kekayaan dengan cara yang benar, ia berpikir: Semoga kemasyhuran mendatangiku dan sanak saudaraku dan penah-bisku!.
  3. Setelah memperoleh kekayaan dengan cara yang benar dan setelah memperoleh kemasyhuran untuk dirinya dan sanak saudaranya dan penahbisnya, ia berpikir: Semoga aku panjang umur dan menikmati umur panjang!.
  4. Setelah memperoleh kekayaan dengan cara yang benar dan setelah memperoleh kemasyhuran untuk dirinya dan sanak saudaranya dan penahbisnya, setelah hidup lama dan menikmati umur panjang, ia berpikir: Dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, semoga aku terlahir kembali di alam tujuan yang baik, di alam surga!.

Ini adalah keempat hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan jarang diperoleh di dunia.

Ada, perumah tangga, empat hal [lainnya] yang mengarah pada diperolehnya empat hal tadi. Apakah empat ini? Kesempurnaan dalam keyakinan, kesempurnaan dalam perilaku bermoral, kesempurnaan dalam kedermawanan, dan kesempurnaan dalam kebijaksanaan.
  1. Seorang siswa mulia memiliki keyakinan; ia menempatkan keyakinan dalam pencerahan Sang Tath?gata sebagai berikut: Sang Bhagav? adalah seorang Arahanta, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, sempurna menempuh sang jalan, pengenal dunia, pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Suci.
  2. Seorang siswa mulia menghindari membunuh makhluk hidup, menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan, menghindari per-buatan asusila, menghindari minuman keras, anggur, dan minuman memabukkan, yang menjadi landasan bagi kelengahan. Ini disebut kesempurnaan dalam perilaku bermoral.
  3. Seorang siswa mulia berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran, dermawan dengan bebas, bertangan terbuka, bersenang dalam melepas, menekuni derma, bersenang dalam memberi dan berbagi.
  4. Seseorang berdiam dengan pikiran dikuasai oleh kerinduan dan ke-serakahan yang tidak selayaknya, maka ia melakukan apa yang seharusnya dihindari dan mengabaikan tugasnya, sehingga kemasyhuran dan kebahagiaannya menjadi rusak. Jika ia berdiam dengan pikiran di-kuasai oleh niat buruk oleh ketumpulan dan kantuk oleh kegelisahan dan penyesalan oleh keragu-raguan, maka ia melakukan apa yang seharusnya dihindari dan mengabaikan tugasnya, sehingga kemasyhuran dan kebahagiaannya menjadi rusak.

Ketika, perumah tangga, seorang siswa mulia telah memahami sebagai berikut: Kerinduan dan keserakahan yang tidak selayaknya adalah kekotoran pikiran, maka ia meninggalkannya. Ketika ia memahami sebagai berikut: Niat buruk adalah kekotoran pikiran, maka ia meninggalkannya. Ketika ia memahami sebagai berikut: Ketumpul-an dan kantuk adalah kekotoran pikiran, maka ia meninggalkannya. Ketika ia me-mahami sebagai berikut: Kegelisahan dan penyesalan adalah kekotoran pikir-an, maka ia meninggalkannya. Ketika ia memahami sebagai berikut: Keragu-raguan adalah kekotoran pikiran, maka ia meninggalkannya.

Ketika, perumah tangga, seorang siswa mulia telah memahami sebagai berikut: Kerinduan dan keserakahan yang tidak selayaknya adalah kekotoran pikiran, dan telah meninggalkannya; ketika ia memahami sebagai berikut: Niat buruk Ketumpulan dan kantuk Kegelisahan dan penyesalan Keraguraguan adalah kekotoran pikiran, dan telah meninggalkannya, maka ia disebut seorang siswa mulia dengan kebijak-sanaan tinggi, dengan kebijaksanaan luas, seorang yang melihat wilayah, seorang yang sempurna dalam kebijaksanaan. 

Ini adalah keempat hal [lainnya] yang mengarah pada diperolehnya empat hal yang diharapkan, diinginkan, menyenangkan, dan jarang diperoleh di dunia.

Dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha penuh semangat, yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan benar, maka siswa mulia itu melakukan empat perbuatan yang layak. Apakah empat ini?
  1. Membuat dirinya bahagia dan gembira dan dengan benar memelihara dirinya dalam kebahagiaan; ia membuat orangtuanya bahagia dan gembira dan dengan benar memelihara mereka dalam kebahagiaan; ia membuat istri dan anak-anaknya, budak-budak, para pekerja, dan para pelayannya bahagia dan gembira dan dengan benar memelihara mereka dalam kebahagiaan; ia membuat teman-teman dan sahabatnya bahagia dan gembira dan dengan benar memelihara mereka dalam kebahagiaan. 
  2. Siswa mulia itu mempersiapkan per-bekalan terhadap kehilangan yang mungkin muncul dari api, banjir, raja-raja, pencuri-pencuri, atau pe-waris yang tidak disukai; ia membuat dirinya aman dari hal-hal itu. 
  3. Siswa mulia itu memberikan lima pengorbanan: kepada sanak saudara, tamu, leluhur, raja, dan para dewata.
  4. Siswa mulia itu memberikan persembahan yang lebih tinggi, suatu persembahan yang surgawi, yang menghasilkan kebahagiaan, meng-arah menuju surga, kepada para petapa dan brahmana itu yang menghindari kemabukan dan ke-lengahan, yang kokoh dalam kesabaran dan kelembutan, yang jinak, tenang, dan berlatih untuk mencapai Nibb?na.

Ini, perumah tangga, adalah keempat perbuatan layak yang dilakukan oleh siswa mulia itu dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha penuh semangat, yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan benar. Ketika seseorang menghabiskan kekayaannya untuk apa pun selain ke empat perbuatan layak ini, maka kekayaan itu dikatakan telah tersia-siakan, telah dihambur-hamburkan, telah digunakan secara sembrono. Tetapi ketika seseorang menghabiskan kekayaannya atas keempat perbuatan layak ini, maka kekayaannya dikatakan tidak tersia-siakan, telah digunakan dengan benar, telah dimanfaatkan untuk sebab yang layak (AN 4.61: Pattakamma Sutta).


Referensi:
  • Bhante Dhammadh?ro. 2005. Paritta Suci. Yayasan Sa?gha Therav?da Indonesia. Jakarta Utara.
  • Dra. Wena Cintiawati dan Dra. Lanny Angawati. 2002. A?gutara Nik?ya Kitab Suci Agama Buddha. Vihara Bodhiva?sa. Klaten.


Text Dhammadesan? dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut:
https://drive.google.com/file/d/1gyFEZyPuTy5QLqiG2-Q8N_7eK3fHw9SR/view

Dibaca : 13359 kali