x

CARA GURU MENGAJAR & KUALITAS MURID (Kesi Sutta & Ugghaṭitaññu Sutta)

Attānameva paṭhamaṁ, paṭirūpe nivesaye
atthañña manusāseyya, na kilisseya paṇḍito’ti

Hendaklah orang terlebih dahulu
mengembangkan dirinya sendiri dalam hal-hal yang patut,
dan selanjutnya melatih orang lain.
Orang bijaksana yang berbuat demikian tidak akan dicela.

Dhammapada 158

 

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Guru adalah profesi yang amat sangat tua, bahkan jauh sebelum Sang Buddha ada, orang-orang yang menjadi guru, memiliki keahlian meng-ajar sudah ada. Pangeran Siddharta ketika di istana memiliki guru yang bernama Vasumitta, yang mengajarinya membaca, menulis, bermain pedang, bermain panah, menunggang kuda, dan lainnya. Dari sini kita ketahui bahwa guru tidak hanya mengajar baca-tulis, sikap, perilaku, dan kedisiplinan, tapi juga memberikan bimbingan ke-terampilan.

Kesi SuttaDari jaman dahulu sampai sekarang pengajaran  atau pendisiplinan tidak hanya diberikan kepada manusia, tetapi ada beberapa hewan yang diajari sesuatu agar bisa membantu tugas-tugas manusia, contoh: kuda, gajah, burung, dan hewan lainnya. Mereka yang memiliki kemampuan mengajar atau mendisiplinkan hewan disebut pawang.

Dalam Aṅguttara Nikāya, Kelompok Empat ada kisah seorang pawang kuda yang bertemu dengan Sang Buddha: Kesi si pelatih kuda mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, dan duduk di satu sisi. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepadanya: “Kesi, engkau adalah seorang pelatih kuda yang memiliki reputasi baik. Bagaimanakah engkau mendisiplinkan seekor kuda yang harus dijinakkan?” “Bhante, aku mendisiplinkan sejenis kuda dengan cara lembut,  jenis lainnya dengan cara keras, dan jenis lainnya lagi dengan cara lembut dan keras.”

“Tetapi, Kesi, jika seekor kuda yang harus dijinakkan olehmu tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui salah satu metode ini, apakah yang engkau lakukan terhadapnya?” “Bhante, jika seekor kuda yang harus dijinakkan olehku tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui salah satu metode ini, maka aku membunuhnya. Karena alasan apakah? Agar tidak mempermalukan perkumpulan guruku. Tetapi, Bhante, Sang Bhagavā adalah pelatih terbaik bagi orang-orang yang harus dijinakkan. Bagaimanakah Sang Bhagavā mendisiplinkan seorang yang harus dijinakkan?” 

“Aku mendisiplinkan sejenis orang dengan cara lembut, jenis lainnya dengan cara keras, dan jenis lainnya lagi dengan cara lembut dan keras. (1) Ini, Kesi, adalah metode lembut: ‘Demikianlah perbuatan baik melalui jasmani, demikianlah akibat dari per-buatan baik melalui jasmani; demikian-lah perbuatan baik melalui ucapan, demikianlah akibat dari perbuatan baik melalui ucapan; demikianlah perbuatan baik melalui pikiran, demikianlah akibat dari perbuatan baik melalui pikiran; demikianlah para dewa, demikianlah umat manusia.’ 

(2) Ini adalah metode keras: ‘Demi-kianlah perbuatan buruk melalui jas-mani, demikianlah akibat dari per-buatan buruk melalui jasmani; demi-kianlah perbuatan buruk melalui ucapan, demikianlah akibat dari per-buatan buruk melalui ucapan; demi-kianlah perbuatan buruk melalui pikir-an, demikianlah akibat dari perbuatan buruk melalui pikiran; demikianlah neraka, demikianlah alam binatang, demikianlah alam hantu menderita.’ 

(3) Ini adalah metode lembut dan keras: ‘Demikianlah perbuatan baik melalui jasmani, demikianlah akibat dari perbuatan baik melalui jasmani; demikian-lah perbuatan buruk melalui jasmani, demikianlah akibat dari perbuatan buruk melalui jasmani; demikianlah perbuatan baik melalui ucapan, demikianlah akibat dari perbuatan baik melalui ucapan; demikianlah perbuatan buruk melalui ucapan, demikianlah akibat dari perbuatan buruk melalui ucapan; demikianlah perbuatan baik melalui pikiran, demikianlah akibat dari perbuatan baik melalui pikiran; demikianlah perbuatan buruk melalui pikiran, demikianlah akibat dari per-buatan buruk melalui pikiran; demi-kianlah para dewa, demikianlah umat manusia; demikianlah neraka, demi-kianlah alam binatang, demikianlah alam hantu menderita.’”

“Tetapi, Bhante, jika orang yang harus dijinakkan oleh-Mu tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui salah satu metode ini, apakah yang Engkau laku-kan terhadapnya?” 

(4) “Jika orang yang harus dijinakkan oleh-Ku tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui salah satu  metode ini, maka Aku membunuhnya.” 

“Tetapi, Bhante, adalah tidak di-perbolehkan bagi Sang Bhagavā untuk membunuh. Namun Beliau mengatakan, ‘Maka Aku membunuhnya.’” “Benar, Kesi, adalah tidak diperboleh-kan bagi Sang Bhagavā untuk mem-bunuh. Akan tetapi, jika orang yang harus dijinakkan oleh-Ku tidak mau menurut pada pendisiplinan melalui metode lembut, metode keras, atau metode lembut dan keras, maka Sang Tathāgata berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari, dan teman-temannya para bhikkhu, juga berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari. Karena ini, Kesi, adalah ‘pembunuhan’ dalam disiplin Yang Mulia: Sang Tathāgata berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari, dan teman-temannya para bhikkhu, juga berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari.” “Ia memang telah dibunuh dengan benar, Bhante, ketika Sang Tathāgata berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari, dan teman-temannya para bhikkhu, juga berpikir bahwa ia seharusnya tidak diajak bicara dan tidak diajari.

“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam banyak cara, seolah-olah menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung kepada Guru Gotama, kepada Dhamma, dan kepada Saṅgha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung sejak hari ini hingga seumur hidup.

Ugghaṭitaññu SuttaKemajuan seorang murid tidak hanya ditentukan oleh kemampuan guru dalam mengajar atau medisiplinkan, tetapi bagaimana murid itu memiliki kualitas. Dalam Ugghaṭitaññu Sutta, Aṅguttara Nikāya Kelompok Empat, Sang Buddha membabarkan tentang Empat Kualitas Mental Manusia, yaitu:
  1. Seorang yang memahami dengan cepat (ugghaṭitaññu puggala); 
  2. Seorang yang memahami melalui penjelasan terperinci (vipacitaññu puggala); 
  3. Seorang yang perlu dituntun (neyyapuggala); dan 
  4. Seorang yang baginya kata-kata adalah maksimum (padaparama puggala). 



-  Seri Tipitaka Aṅguttara Nikāya Jilid 2, DhammaCitta Press, 2015

-   Dhammapada, Yayasan Dhamma-dipa Arama, Juli 2019.


Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut:
https://drive.google.com/file/d/1tOC7TyL3_W-xv_XgZZ3bCd4QpNj_AMy6/view

Dibaca : 3591 kali