x

CINTA KASIH TANPA PILIH KASIH

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Mettañca sabbalokasmiṃ, mānasaṃ bhāvaye aparimāṇaṃ;
Uddhaṃ adho ca tiriyañca, asambādhaṃ averaṃ asapattaṃ.
Cinta kasih terhadap makhluk di semua alam patut dikembangkan tanpa batas dalam batin, baik ke arah atas, bawah, dan di antaranya tidak sempit, 
tanpa kedengkian, tanpa permusuhan. (Metta Sutta)

 
Dewasa ini dunia sedang di-hadapkan pada keadaan krisis cinta kasih. Ujaran kebencian, provo-kasi, pertikaian, bahkan peperangan yang semakin meningkat memperkuat bukti adanya krisis cinta kasih. Lemahnya cinta kasih ini menyebab-kan orang-orang cenderung mudah dikuasai oleh kebencian, emosi, dan amarah. Akibatnya banyak tindakan yang cenderung bersifat merusak dan membahayakan banyak orang. Kalau ini tidak segera ditangani, dunia akan berhadapan dengan keadaan yang semakin memburuk.

Ajaran Buddha sesungguhnya berisi semangat menyuarakan cinta kasih. Ajaran ini sangat relevan dan dibutuhkan untuk dunia masa kini dan yang akan datang. Cinta kasih bagi agama Buddha sudah dianggap seperti nadi dalam segala praktik kebaikan. Perbuatan apapun yang seseorang akan lakukan, baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran hendaknya dilakukan dengan dasar cinta kasih. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Paṭhamasāraṇīya Sutta, tindakan dengan dasar cinta kasih ini menjadi landasan yang membangun pada kerukunan dan keharmonisan (A. III. 288). Cinta kasih ini diawali dengan pikiran yang mengharapkan makhluk lain ber-bahagia, kemudian dilanjutkan dengan tindakan nyata yang bisa membuat makhluk lain berbahagia. Dengan demikian, pada saat pikiran dipenuhi dengan cinta kasih, segala bentuk kebencian, niat buruk, ketidaksukaan, dan kemarahan akan sirna. Cinta kasih membawa ke-bahagiaan dan kedamaian bagi diri sendiri dan banyak makhluk.

Cinta kasih dalam ajaran Buddha bukanlah cinta kasih yang terbatas, melainkan adalah cinta kasih yang universal tanpa batas. Itulah sebabnya cinta kasih dalam agama Buddha adalah cinta kasih yang tanpa pilih kasih, karena jangkauannya tidak tebang pilih, melainkan men-jangkau semua makhluk secara keseluhuran tanpa membeda-bedakan. Kalimat “Sabbe sattā bhavantu sukhitattā (Semoga semua makhluk hidup berbahagia)” yang ditemukan di dalam Mettā Sutta menjadi slogan umat Buddha di dalam mempromosi-kan ajaran Buddha yang penuh dengan cinta kasih. Semua makhluk (sabbe sattā) di sini bukan hanya makhluk manusia, tetapi mencakup semua makhluk hidup, baik yang tampak maupun tidak, terlahir mau-pun belum terlahir, kasar maupun halus. Tidak hanya manusia semata, binatang dan juga makhluk-makhluk lain juga termasuk. Semua makhluk di sini mengacu pada objek yang luas. Seperti yang tertera dalam Metta Sutta, objeknya antara lain: semua makhluk apapun yang ada (Ye keci pāṇabhūtatthi), yang goyah (tasā), yang kokoh (thāvarā), tanpa kecuali (anavasesā), yang panjang (dīghā), yang besar (mahantā), yang sedang (majjhimā), yang pendek (rassakā), yang kecil (aṇukā), yang gemuk (thūlā), yang tampak (diṭṭhā), yang tak tampak (adiṭṭhā), yang jauh (dūre vasanti), yang dekat (avidūre), yang menjadi (bhūtā), atau pun yang belum menjadi (sambhavesī. Khp. 8). Semuanya tanpa kecuali diharapkan semoga menjadi bahagia. 

Dijelaskan pula bahwa cinta kasih kepada semua makhluk hendak-nya dikembangkan tanpa batas, bagaikan seorang ibu mempertaruh-kan jiwanya untuk melindungi putra tunggalnya (Mātā yathā niyaṃ puttamāyusā ekaputtamanurakkhe; evampi sabbabhūtesu mānasaṃ bhāvaye aparimāṇaṃ). Cinta kasih ini bersifat tulus tanpa pamrih kepada semua makhluk. Cinta kasih terhadap makhluk di semua alam patut di-kembangkan tanpa batas dalam batin, baik ke arah atas, bawah, dan di antaranya tidak sempit, tanpa kedeng-kian, tanpa permusuhan (Mettañca sabbalokasmiṃ, mānasaṃ bhāvaye aparimāṇaṃ; uddhaṃ adho ca tiriyañca, asambādhaṃ averaṃ asapattaṃ).

Cinta kasih menjadi antidot dari kebencian. Dengan adanya cinta kasih, kebencian tidak akan men-dapatkan peluang untuk muncul dan kebencian yang sudah ada bisa segera lenyap. Segala bentuk kekerasan, pertikaian, bahkan peperangan se-sungguhnya berawal dari pikiran yang dikuasai oleh kebencian. Maka dari itu Buddha menganjurkan untuk melenyapkan kebencian dengan cinta kasih. Kebencian tidak akan pernah berakhir bila dibalas dengan ke-bencian, tapi kebencian baru akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih (Na hi verena verāni, sammantīdha kudācanaṃ; averena ca sammanti, esa dhammo sanantano. Dhp. 5).

Cinta kasih memang pada mula-nya memberikan kebahagiaan dan kedamaian bagi individu. Namun cinta kasih juga akan berkontribusi besar terhadap kebahagiaan dan ke-damaian dunia. Cinta kasih mem-bebaskan orang-orang dari kebencian dan membuat orang-orang bertindak yang bermanfaat untuk semua. Mettānisaṃsa Sutta menyebutkan ada sebelas manfaat dari mengembangkan cinta kasih, antara lain sebagai berikut:

 
1)Seseorang dapat tidur dengan lelap (sukhaṃ supati)
2)Ia bangun dengan bahagia (sukhaṃ paṭibujjhati)
3)Ia tidak bermimpi buruk (na pāpakaṃ supinaṃ passati)
4)Disukai oleh para manusia (manussānaṃ piyo hoti)
5)Disukai oleh makhluk-makhluk halus (amanussānaṃ piyo hoti)
6)Para dewata melindunginya (devatā rakkhanti)
7)Api, racun, dan senjata tidak akan melukainya (nāssa aggi vā visaṃ vā satthaṃ vā kamati)
8)Memiliki paras wajah yang ten-teram (mukhavaṇṇo vippasīdati)
9)Meninggal dengan pikiran yang tidak kacau (asammūḷho kālaṃ karoti)
10)Jika ia tidak menembus lebih jauh lagi (menjadi arahat) maka ia akan terlahir di alam Brahma (uttariṃ appaṭivijjhanto brahma-lokūpago hoti: A. V. 342)


Referensi:
Chaṭṭha Saṅgāyanā Tipiṭaka 4.0 Version 4.0.0.15 (Pāli). Igatpuri: Vipassana Research Institute. 1995.


Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut: https://drive.google.com/file/d/1_iefLCrgMHmaMhWK67dBxzTA8nlalkCS/view

Dibaca : 2238 kali