x

Mitigasi Dan Kesiapsiagaan Menghadapi Perpisahan

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Tīṇi samātāputtikāniyeva bhayāni
Amātāputtikāni bhayānī ti, assutavā puthujjano bhāsati.
Ada tiga bahaya sehubungan dengan ibu dan putra yang dibicarakan 
oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar sebagai “bahaya yang memisahkan 
ibu dan putranya.”

 
Pemanasan global menjadi perhatian utama di dunia, merupakan tantang-an yang harus dihadapi oleh dunia di abad 21, hal ini berdampak pada ter-jadinya kenaikan suhu di bumi, yang mengakibatkan hilangnya keseimbangan dalam siklus bumi, kenaikan suhu per-mukaan dan perubahan musim yang tidak dapat diprediksi. Perubahan iklim berdampak pada terjadinya bencana alam di mana-mana mulai dari badai topan, badai siklon tropis, banjir, pandemic virus, kekeringan, El Nino, kelaparan, tsunami dan berbagai bencana lainnya yang mengakibatkan hilangnya fungsi ekosistem yang berdampak pada ter-jadinya bencana ekologis. 

Bencana terjadi akibat adanya faktor-faktor ancaman (hazard) berupa feno-mena alam akibat pemanasan global dan adanya kerentanan (vulnerability) di dalam suatu masyarakat dalam menerima risiko bencana, untuk itulah perlu di-lakukan upaya-upaya peredaman risiko bencana (disaster risk reduction) yang merupakan suatu kegiatan manajemen bencana untuk mengurangi risiko ben-cana dari dampak perubahan iklim global mulai dari sebelum bencana terjadi (mitigasi dan kesiapsiagaan), saat ter-jadi bencana (emergency response) dan setelah terjadi bencana (recovery and rencana strategis).

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Bapak Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan: “Ada beberapa masalah yang akan lebih mengancam dari pandemi yaitu masalah perubahan iklim yang kini menjadi perhatian dunia. Wabah omicron tidak hanya menjadi sumber ketidak-pastian pada tahun 2022, tetapi kita tahu bahwa perubahan iklim semakin me-ngancam.” 

Dengan demikian, bagaimana cara kita sebagai generasi abad 21 saat ini yang melestarikan ekosistem lingkungan tempat tinggal serta memahami bahwa bahaya yang saat ini menjadi ancaman untuk segera mencegahnya sesuai dengan pedoman dasar ajaran Buddha? Berikut yang terurai penjelasannya pada Aṅguttara Nikāya 3.62: Bhaya Sutta: “Para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terpelajar membicarakan ketiga bahaya ini yang memisahkan ibu dan anaknya. Apakah tiga penyebab tersebut?


(1) “Akan tiba saatnya ketika kebakaran besar muncul. Ketika kebakaran besar muncul, kebakaran itu membakar desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota. Ketika desa-desa, pemukiman-pe-mukiman, dan kota-kota sedang terbakar, sang ibu tidak menemukan anaknya dan anak tidak menemukan ibunya. Ini adalah bahaya pertama yang memisah-kan ibu dan anaknya yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar.

(2) “Kemudian, akan tiba saatnya ketika hujan lebat muncul. Ketika hujan lebat muncul, maka banjir besar terjadi. Ketika banjir besar terjadi, desa-desa, pe-mukiman-pemukiman, dan kota-kota ter-hanyutkan. Ketika desa-desa, pemukim-an-pemukiman, dan kota-kota terhanyut-kan, sang ibu tidak menemukan anaknya dan anak tidak menemukan ibunya. Ini adalah bahaya ke dua yang memisahkan ibu dan anaknya yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar.

(3) “Kemudian, akan tiba saatnya ketika muncul badai berbahaya di dalam hutan belantara, ketika orang-orang di pe-dalaman, menaiki kendaraan mereka, dan pergi ke berbagai arah. Ketika terjadi badai berbahaya di dalam hutan belantara, dan orang-orang di pedalaman, menaiki kendaraan mereka, dan pergi ke berbagai arah, sang ibu tidak menemu-kan anaknya dan anak tidak menemukan ibunya. Ini adalah bahaya ke tiga yang memisahkan ibu dan anaknya yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar.


“Ini adalah ketiga bahaya itu yang memisahkan ibu dan anaknya yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar.

“Ada, para bhikkhu, tiga bahaya ini ketika ibu dan anaknya berkumpul kembali yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anak-nya. Apakah tiga penyebab tersebut?

(1) “Akan tiba saatnya ketika kebakaran besar muncul. Ketika kebakaran besar muncul, kebakaran itu membakar desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota. Ketika desa-desa, pemukiman-pe-mukiman, dan kota-kota sedang terbakar, kadang-kadang ada suatu kesempatan ketika ibu bertemu dengan anaknya dan anak bertemu dengan ibunya. Ini adalah bahaya pertama ketika ibu dan anaknya berkumpul kembali yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan putranya.

(2) “Kemudian, akan tiba saatnya ketika hujan lebat muncul. Ketika hujan lebat muncul, maka banjir besar terjadi. Ketika banjir besar terjadi, desa-desa, pemukim-an-pemukiman, dan kota-kota terhanyut-kan. Ketika desa-desa, pemukiman-pemukiman, dan kota-kota terhanyutkan, kadang-kadang ada suatu kesempatan ketika ibu bertemu dengan anaknya dan anak bertemu dengan ibunya. Ini adalah bahaya ke dua ketika ibu dan putranya berkumpul kembali yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anaknya.

(3) “Kemudian, akan tiba saatnya ketika muncul badai berbahaya di dalam hutan belantara, ketika orang-orang di pe-dalaman, menaiki kendaraan mereka, dan pergi ke berbagai arah. Ketika terjadi badai berbahaya di dalam hutan be-lantara, dan orang-orang di pedalaman, menaiki kendaraan mereka, dan pergi ke berbagai arah, kadang-kadang ada suatu kesempatan ketika ibu bertemu dengan anaknya dan anak bertemu dengan ibunya. Ini adalah bahaya ke tiga ketika ibu dan putranya berkumpul kembali yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anaknya.


“Ini adalah ketiga bahaya itu ketika sang ibu dan anaknya berkumpul kembali yang dibicarakan oleh kaum duniawi yang tidak terpelajar sebagai bahaya yang memisahkan ibu dan anaknya.

“Ada, para bhikkhu, tiga bahaya ini yang memisahkan ibu dan anaknya. Apakah tiga ini? Bahaya penuaan, bahaya penyakit, dan bahaya kematian.

(1) “Ketika sang anak bertambah tua, sang ibu tidak dapat memenuhi harapan-nya: ‘Biarlah aku bertambah tua, tetapi semoga anakku tidak bertambah tua!’ Dan ketika sang ibu bertambah tua, sang anak tidak dapat memenuhi harapannya: ‘Biarlah aku bertambah tua, tetapi semoga ibuku tidak bertambah tua!’

(2) “Ketika sang anak jatuh sakit, sang ibu tidak dapat memenuhi harapannya: ‘Biarlah aku jatuh sakit, tetapi semoga anakku tidak jatuh sakit!’ Dan ketika sang ibu jatuh sakit, sang anak tidak dapat memenuhi harapannya: ‘Biarlah aku jatuh sakit, tetapi semoga ibuku tidak jatuh sakit!’

(3) “Ketika sang anak sekarat, sang ibu tidak dapat memenuhi harapannya: ‘Biarlah aku mati, tetapi semoga anakku tidak mati!’ Dan ketika sang ibu sekarat, sang anak tidak dapat memenuhi harapannya: ‘Biarlah aku mati, tetapi semoga ibuku tidak mati!’

“Ini adalah ketiga bahaya itu yang memisahkan ibu dan anaknya.

“Ada jalan, para bhikkhu, ada cara yang mengarah menuju ditinggalkannya dan diatasinya ketiga bahaya ini ketika ibu dan anaknya berkumpul kembali dan ketiga bahaya ini yang memisahkan ibu dan anaknya. Apakah jalan dan cara itu? Adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan ini; yaitu, pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, per-hatian benar, dan konsentrasi benar. Ini adalah jalan dan cara yang mengarah menuju ditinggalkannya dan diatasinya ketiga bahaya ini ketika ibu dan anaknya berkumpul kembali dan ketiga bahaya ini yang memisahkan ibu dan anaknya.”


Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut: https://drive.google.com/file/d/1bI_bfl3V-otJIc__UQKDRxPU-q-jkOdB/view

Dibaca : 1992 kali