x

PEMUTARAN RODA DHAMMA

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Ñaṇañca pana me dassanaṁ:
‘Akuppā me vimutti, Ayamantimā jāti
Natthidāni punabbhavo’ti’

Timbullah dalam diri Tathagata pengetahuan dan pengertian bahwa:
”Tak tergoncangkan kebebasan batin-ku.
Ini adalah kelahiran yang terakhir. Kini tidak ada tumimbal lahir lagi.”
(Dhammacakkappavattana Sutta, SN 56.11)

 

Majjhimā Paṭipadā - Jalan Tengah

Demikian telah saya dengar. suatu ketika Sang Bhagavā bersemayam di Taman Rusa Isipatana, dekat kota Baranasi. Saat itulah Sang Bhagavā me-manggil Pañcavaggiya-bhikkhu.

“Para Bhikkhu, ada dua hal ekstrem yang tidak patut dijalankan, oleh mereka yang telah meninggalkan rumah sebagai petapa, yakni: (1.) menuruti ke-senangan hawa nafsu, terhadap hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu, yang rendah, duniawi, yang dilakukan oleh mereka yang bodoh, yang tidak luhur, dan berfaedah; (2.) melakukan penyiksa-an diri, yang menyakitkan, yang tidak luhur, dan tidak berfaedah.

O para Bhikkhu, Jalan Tengah (Majjhimā Paṭipadā), yang terhindar dari kedua jalan ekstrem itu, yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, yangmembuka mata batin, yang menimbul-kan pengetahuan, yang membawa ke-tenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna.

Apakah o para Bhikkhu, Jalan Tengah, yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, yang membuka mata batin, … pencapaian Nibbāna itu? Demikian inilah Jalan Ariya Berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhaṅgika Magga), yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pen-caharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan keteguhan benar. Itulah, o para Bhikkhu, Jalan Tengah yang telah sempurna diselami oleh Tathāgata, yang membuka mata batin, … dan pencapaian Nibbāna.

 
Ariya Sacca - Kebenaran Ariya

Inilah, o para Bhikkhu, Kebenar-an Ariya tentang penderitaan (Dukkha Ariya-sacca), yakni: kelahiran adalah penderitaan, usia tua adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, kesedihan, ratap-tangis, derita jasmani, derita batin, dan keputusasaan adalah penderitaan, berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah penderitaan, terpisah dari yang disenangi adalah penderitaan, tidak men-dapat apa yang diinginkan adalah pen-deritaan, singkatnya, Lima Gugusan Pembentuk penyebab kemelekatan adalah penderitaan.

Inilah, o para Bhikkhu, Kebenar-an Ariya tentang asal mula penderitaan (Dukkhasamudaya Ariya-sacca), yakni: kegandrungan inilah, yang membuat ke-lahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang meng-gemari objek di sana sini, yakni: ke-gandrungan terhadap nafsu indrawi, kegandrungan yang disertai pandangan kekekalan, dan kegandrungan yang di-sertai pandangan kemusnahan.

Inilah, o para Bhikkhu, Kebenar-an Ariya tentang musnahnya penderitaan (Dukkhanirodha Ariya-sacca), yakni: musnahnya kegandrungan tersebut tanpa sisa karena lenyapnya nafsu, terlepasnya kegandrungan, tertolaknya kegandrung-an, terbebas dari kegandrungan, tidak terikat oleh kegandrungan.

Inilah, o para Bhikkhu, Kebenar-an Ariya tentang jalan musnahnya penderitaan (Dukkhanirodhagamini Pati-pada Ariya-sacca). Demikian inilah Jalan Ariya Berunsur Delapan, Ariya Aṭṭhaṅgika Magga), yaitu: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan keteguhan benar.

 
Tiparivaṭṭam Dvādasākāram - Tiga putaran Dua Belas ciri

O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan (Cakkhu), telah timbul pengetahuan (Ñaṇa), telah timbul kebijaksanaan (Pañña), telah timbul ilmu (Vijjā), telah timbul sinar terang (Āloka), atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Ini adalah kebenaran Ariya, tentang penderita-an’. O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Kebenaran Ariya tentang penderitaan ini, patut dikenali (Pariññeyya); O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Ke-benaran Ariya tentang penderitaan ini, telah dikenali (Pariññātta). 

O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Ini adalah kebenaran Ariya, tentang asal mula penderitaan’. O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Kebenaran Ariya tentang asal mula penderitaan ini, patut dilenyapkan (Pahātabba); O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Ke-benaran Ariya tentang asal mula penderitaan ini, telah dilenyapkan (Pahīna). 

O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Ini adalah kebenaran Ariya, tentang musnahnya musnahnya penderitaan’. O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Kebenaran Ariya tentang musnahnya penderitaan ini, patut dicapai (Sacchikātabba); O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Kebenaran Ariya tentang mus-nahnya penderitaan ini, telah dicapai (Sacchikata). 

O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan, telah timbul pengetahuan, telah timbul kebijaksanaan, telah timbul ilmu, telah timbul sinar terang, atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Ini adalah kebenaran Ariya, tentang jalan me-nuju musnahnya penderitaan’. O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgatadengar, bahwa ‘Ke-benaran Ariya tentang jalan menuju musnahnya penderitaan ini, patut dikembangkan (Bhāvetabba); O para Bhikkhu, pada Tathāgata, telah timbul penglihatan … atas segala hal yang tidak pernah Tathāgata dengar, bahwa ‘Kebenaran Ariya tentang jalan menuju musnahnya penderitaan ini, telah dikembangkan (Bhāvita). 

O para Bhikkhu, selama pe-mahaman terhadap pengetahuan sebagai-mana yang sebenarnya, tentang Empat Kebenaran Ariya, yang terdiri dari tiga putaran, dua belas ciri yang ada pada Tathāgata belum sempurna; tidak akan-lah, o para Bhikkhu, Tathāgata menyata-kan diri, sebagai orang yang mencapai penerangan sempurna oleh diri sendiri, nan tiada bandingnya di dunia, di alam dewa, alam mara, dan alam brahma, bersama dengan himpunan para samana, brahmana, dewa, dan manusianya. Akan tetapi, O para bhikkhu, ketika pemaham-an terhadap pengetahuan sebagaimana yang sebenarnya, … yang ada pada Tathāgata telah sempurna; pada saat itulah Tathāgata menyatakan diri, sebagai orang yang mencapai penerangan sem-purna oleh diri sendiri, nan tiada bandingnya di dunia ini, di alam dewa … dan manusianya.

Timbullah dalam diri Tathāgata pengetahuan dan pengertian bahwa ”Tak tergoncangkan kebebasan batin-Ku. Ini adalah kelahiran yang terakhir. Kini tidak ada tumimbal lahir lagi.” Inilah Sabda Sang Bhagavā; Para bhikkhu Pañca-vaggiya merasa puas dan bersukacita, atas sabda Sang Bhagavā .
 

Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut: https://drive.google.com/file/d/1l7cqmjdto0CXeoBTplZgKoIFthV9Y7z3/view

Dibaca : 1207 kali