x

KENDI

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa 


Attasammāpaṇidhi ca etammaṅgalamuttaman,ti.
“Membimbing diri dengan benar, Itulah berkah utama”
    (Maṅgala Sutta, Khuddakapātha)

 
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai manusia tidak terlepas dari interaksi antara satu dengan yang lainnya. Sehingga kita harus berhati-hati dalam melakukan segala tindakan baik melalui pikir-an, ucapan dan perbuatan badan jasmani. Oleh karena itu, kita harus selalu waspada ketika kemana-mana. Dalam hal ini, ada satu rahasia umum sebenarnya yang di-miliki oleh para bhikkhu, bhikkhuni, samanera, samaneri, atthasilani bahkan upasaka dan upasika. Di-mana kita harus selalu membawa hal ini, membawa kendi ke manapun kita pergi. Hal yang selalu kita bawa adalah kendi. Kenapa judulnya “KENDI” karena hal ini, merupakan hal yang sangat penting untuk dapat diketahui.
Kendi yang dibawa ini tidak-lah main-main, kendi yang dibawa ini memiliki isi, kendi biasanya diisi dengan air, biasanya diisi dengan minuman-minuman tertentu, bahkan pada zaman dulu kendi dapat dijadi-kan sebagai hiasan rumah. Tetapi kendi yang dimaksudkan di sini adalah bukan kendi pada umumnya. Kendi ini diisi oleh beberapa hal, yang isinya adalah Jamu, Jati, Jaran. Jamu (jaga mulut), jati (jaga tindakan), dan jaran (jaga pikiran).

1. Jamu (Jaga Mulut)
Menjaga mulut di sini dalam artian menjaga apa yang masuk dan menjaga apa yang keluar. Tentunya yang masuk di sini adalah kita harus selalu mem-perhatikan makanan apa yang dikonsumsi, sehingga tidak me-nimbulkan hal-hal yang tidak di-inginkan seperti munculnya pe-nyakit-penyakit baru. Tentunya yang keluar di sini adalah apa yang kita ucapkan kepada orang lain. Menjaga mulut bisa diarti-kan sebagai menjaga ucapan yang merupakan untuk mengendalikan diri sendiri. 

Seperti yang dijelaskan oleh Guru Agung Sang Buddha Gotama yang terdapat di dalam terjemahan Aṅguttara Nikāya kelompok V: 198, dikatakan: “Jika ucapan memiliki lima tanda, O para bhikkhu berarti ucapan itu disampaikan dengan baik, tidak disampaikan dengan buruk, tak ternoda, dan tak ter-cela oleh para bijaksana. Apakah kelima tanda ini? Itulah ucapan yang tepat waktu, sesuai kebenar-an, lembut, bertujuan, dan di-ucapkan dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih”. Inilah lima tanda ucapan yang baik. Dalam Saccavibhanga Sutta, Majjhima Nikāya ada empat kriteria ucapan yang salah, yaitu ucapan yang kasar, ucapan gosip, perkataan memfitnah, dan perkataan yang tidak berfaedah. Ucapan yang salah bisa mengakibatkan per-musuhan, tersinggung, sakit hati, dendam, kebencian dan bisa bunuh diri.
 
2.
Jati (Jaga Tindakan)
Menjaga tindakan jasmani, terdapat tiga tindakan lewat tubuh jasmani, yaitu menghindari diri dari pembunuhan makhluk hidup, menghindari diri dari pencurian, dan menghindari diri dari berbuat asusila. Menurut ajaran Guru Agung Sang Buddha Gotama, suatu perbuatan itu dikatakan baik atau buruk tergantung pada keadaan pikiran pelaku saat per-buatan tersebut dilakukan.

3.Jaran (Jaga Pikiran)
Kehidupan ini tidak dapat dilepaskan dengan harapan untuk meningkatkan kualiatas diri. Salah satu caranya adalah ber-upaya agar pikiran ini tetap sehat. Pikiran yang sehat dapat mem-bantu seseorang ketika dalam keadaan kalut atau mengalami luka batin. Banyak orang berkata, untuk memiliki pikiran yang sehat tidaklah mudah. Kenapa tidak mudah? Karena pikiran itu sifatnya sulit untuk dikendalikan. Pikiran itu lembut dan licin. Pikiran lebih suka hal-hal yang menyenangkan dibandingkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Itulah dari sifat pikiran.

Guru Agung Sang Buddha Gotama bersabda bahwa pikiran sangatlah dominan, menentukan bahagia tidaknya kehidupan kita ini. Di dalam Dhammapada Citta Vagga, syair 39, Guru Agung Sang Buddha Gotama bersabda: “Anavassutacittassa ananvāhata-cetaso puññapāpapahīnassa natthi jāgarato bhayaṁ” artinya “Orang yang pikirannnya teguh, yang tiada tergoyahkan oleh nafsunya, yang tidak terangsang oleh kebencian, akan dapat mengatasi segala macam kejahat-an dan kebaikan. Orang yang ulet dan sadar seperti itu, tiada lagi ketakutan yang akan menimpa-nya”. Pikiran memang sulit di-kendalikan, maka harus ada upaya untuk mengendalikannya. Pikiran memang liar tetapi harus ada upaya untuk menjinakannya. Pikiran yang senang pada objek-objek yang menyenangkan harus diarahkan dengan benar.

Seperti yang dijelaskan oleh Guru Agung Sang Buddha Gotama di dalam Dhammapada Yamaka Vagga, syair 1 dan 2 menjelaskan bahwa “pikiran itu adalah pelopor, pikiran itu adalah pemimpin, dan pikiran itu adalah penentu. Jadi, kalau pikiran itu sebagai pemimpin, pelopor dan penentu, maka pengaruh pikiran sangat kuat terhapan ucapan dan tingkah laku seseorang. Sing-katnya, ketika pirikan kita selalu dipenuhi oleh pikiran yang positif, maka tingkah laku kita juga baik; sebaliknya ketika kita memiliki pikiran yang tidak baik (negatif), maka tingkah laku kita juga tidak baik. Jadi, semua aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan ini semua diatur oleh pikiran. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga dan me-rawat pikiran agar selalu sadar setiap saat.

Inilah tiga hal yang sangat penting untuk dipraktikkan. Ketika seseorang bisa menerapkan ketiga hal ini, ke manapun ia pergi, seperti bisa mengendalikan ucapan, bisa mengendalikan tindakan, dan bisa mengendalikan pikiran-pikirannya selalu dipenuhi oleh hal-hal yang positif, sehingga apapun yang di-lakukan adalah perbuatan-perbuatan yang bermanfaat, baik bermanfaat bagi diri sendiri dan juga ber-manfaat bagi orang lain. 


 
Sumber:
- Aṅguttara Nikāya V.
- Saccavibhanga Sutta, Majjhima Nikāya.
- Kyokai, D, B. 2005.  The Dhammapada. Burma: Dewi Kayana Abadi.


Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut:
https://drive.google.com/file/d/1n7Wz...

Dibaca : 2680 kali