x

PENGEJAWANTAHAN KEBEBASAN TULEN

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


“Seyyathāpi, bhikkhave, mahāsamuddo ekaraso loṇaraso;
evameva kho, bhikkhave, ayaṁ dhammavinayo ekaraso vimuttiraso”ti.
"Wahai para bhikkhu, sebagaimana mahasamudra memiliki satu rasa, 
rasa garam; demikian pun, para bhikkhu, Dhammavinaya memiliki satu rasa, rasa kebebasan.”

—Uposathasutta, Soṇavagga, Udānapāḷi, Khuddakanikāya, Suttapiṭaka

 
Kebebasan dalam Sudut Pandang Dhamma

Tidak sedikit makhluk yang mengidamkan kebebasan. Akan tetapi, pemahaman terkait kebebasan se-demikian beragam. Beberapa kelompok menganggap kebebasan adalah ter-penuhinya segala kenikmatan materi. Sementara, kelompok yang lainnya menganggap terlepas sepenuhnya dari materi adalah kebebasan. Lebih lanjut, tidak hanya antar kelompok ideologi, pun individu per individu memiliki tolok ukur masing-masing terkait perihal tersebut. Lantas, bagaimanakah kebebasan sesuai dengan kacamata Dhamma?

Kebebasan yang tulen menurut Dhamma–disebut vimutti, vimokkha, serta banyak padanan kata yang lainnya–adalah dukkhanirodha, yakni padamnya kegandrungan tanpa sisa,  sehingga terlepas sepenuhnya dari taṇhā alias kegandrungan (S v 421). Kebebasan yang demikian adalah yang sepatutnya menjadi tujuan utama siapapun yang berlindung pada Tiratana. Menjadi perihal yang patut untuk diejawantahkan (S v 422). Kebebasan seperti inilah yang disebut sebagai nibbāna dalam agama Buddha.

Namun, perlu digarisbawahi sebelumnya, yang dimaksud pengejawantahan atau sacchikiriyā di sini terkait dengan pelurusan pan-dangan (diṭṭhujukamma). Sehingga, jangan sampai salah dimengerti sebagai sebuah entitas baru yang muncul. Di sinilah peran sammādiṭṭhi sebagai fon-dasi awal seseorang praktik Dhamma.


Variasi dalam Pengejawantahan Kebebasan

Dalam mengejawantahkan ke-bebasan, siapa pun patut menjalankan yang disebut sebagai Jalan Tengah (S v 421). Sebuah jalan yang sepenuhnya terlepas dari kedua ekstrem, yakni ekstrem hedonisme dan ekstrem penyiksaan diri. Dalam sudut pandang lain, terlepas dari ekstrem eternalis alias sassatavāda, pun terlepas dari ekstrem nihilis alias ucchedavāda. Jalan berunsur delapan ini yang sepatutnya disertakan dalam setiap tindak tanduk, ucapan, dan pikiran seseorang yang bercita-cita akan kebebasan sejati.

Akan tetapi, dalam proses mengejawantakan kebebasan ini, ter-dapat perbedaan dalam praktiknya. Di dalam Aṭṭhakanāgarasutta, Aṅguttara-nikāya, disebutkan ada sebelas cara seorang bhikkhu yang tidak lengah mampu membebaskan cipta yang belum terbebas. Kesebelas cara ini, di antaranya: pencapaian Jhāna I–IV, keempat brahmavihāra, ākāsānañcā-yatana, viññāṇañcāyatana, dan ākiñcaññāyatana, secara menyeluruh diketahui sebagai bentukan dan ranah pikiran (abhisaṅkhata abhisañce-tayita), sehingga bukan kekal dan perihal yang memiliki kepadaman (tadanicca nirodhadhamma) (A v 343–346).

Merujuk kepada penjelasan di dalam Paṭisambhidāmagga, seseorang yang terbiasa menyelidiki segala perihal melalui ciri anicca, mampu mengerti perihal-perihal tersebut sebagai tidak ada gambaran atau animitta. Maka disebut sebagai animittavimokkha, kebebasan tanpa gambaran (Ps ii 65). Ketika seseorang mantap dalam menyelidiki ciri dukkha, maka memahami perihal-perihal sebagai tidak mampu berdiri tegak atau appaṇihita. Maka disebut sebagai appaṇihitavimokkha (Ps ii 66). Sementara, seseorang yang menyelidiki ciri anattā, mengerti perihal-perihal sebagai kosong atau suññata. Maka disebut sebagai suññatavimokkha (Ps ii 67).
Namun, meskipun terdapat perbedaan dalam proses tersebut, sesungguhnya kebebasan tetaplah kebebasan. Dalam arti, seseorang yang mengerti kosong, sudah tentu mengerti tidak ada gambaran, dan bilamana tidak ada gambaran, sudah tentu tidak mampu berdiri tegak (Ps ii 68). Inilah yang disebut melalui perumpamaan mahasamudra memiliki satu rasa. Keseluruh praktik yang berbeda tersebut sepatutnya tidak terlepas dari Ariya-aṭṭhaṅgika-magga.

Pengejawantahan Kebebasan se-bagai Tugas Individu

Perlu dipahami, bahwa pengejawantahan kebebasan ini tidak bisa diwakili oleh yang lainnya. Seseorang mungkin bisa mengajarkan. Akan tetapi, hasil hanya akan di-kenyam oleh mereka yang mem-praktikannya secara tuntas.

Oleh karena itu, pengejawan-tahan kebebasan tulen ini bukanlah tugas kolektif, melainkan tugas masing-masing pribadi. Tidak peduli apakah seorang perumah tangga, petapa, atau apa pun cara hidupnya. Sejauh mereka mengaku sebagai murid Sang Buddha, sepatutnya memiliki tugas yang sama, yaitu terbebas sepenuhnya.
 

Daftar Rujukan:
  1. Feer, M. L. (Ed.). (1976). Saṃyutta-Nikāya: Mahā-Vagga (Vol. V). London: The Pali Text Society.
  2. Hardy, E. (Ed.). (1958). Anguttara-Nikāya: Dasaka-Nipāta, and Ekādasaka-Nipāta. London: The Pali Text Society.
  3. Steinthal, P. (Ed.). (1885). Udānaṃ. London: The Pali Text Society.
  4. Taylor, A. C. (Ed.). (1907). Paṭisambhidāmagga (Vol. II). London: The Pali Text Society.

Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut: https://drive.google.com/file/d/1Dgkw...

Dibaca : 1649 kali