x

RESEP SEHAT LAHIR DAN BATIN

“Āturakāyassa me sato cittaṁ anāturaṁ bhavissatī’ti. 
Evañhi te, gahapati, sikkhitabba”nti.
"Wahai gahapati, berlatihlah engkau demikian: ‘Meskipun tubuhku berpenyakit, ciptaku akan tidak berpenyakit.”
— Nakulapitusutta, Nakulapituvagga, Khandhasaṁyutta, Khandhavaggasaṁyutta, Saṁyuttanikāya, Suttapiṭaka


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahatto Sammāsambuddhassa


Kesehatan adalah Keuntungan yang Terbesar

Sang Buddha mengatakan bahwa kesehatan adalah keuntungan terbesar. Beberapa mungkin berpikir, senantiasa sehat memang menguntungkan. Bagaimana tidak? Ketika tubuh kita bebas dari penyakit, kita bisa produktif, baik dalam kegiatan profesional, pelancongan, maupun kegiatan lainnya. Akan tetapi, apakah keuntungan tersebut yang dimaksud oleh Sang Buddha?

Suatu ketika, seorang paribbājaka bernama Māgaṇḍiya berpandangan bahwa kesehatan jasmani adalah keuntungan yang mengarah kepada kebahagiaan (M i 509). Dengan jelas Sang Buddha menyebutkan bahwa pandangan demkikian adalah keliru. 

Tubuh kita yang terbungkus kulit ini tidak pernah bisa bebas sepenuhnya dari penyakit. Keadaannya pun lemah dan terus melapuk. Bagaimana bisa disebut sebagai yang senantiasa sehat? Namun, dengan pemahaman dan pelatihan yang benar, walaupun tubuh ini menjadi ladangnya penyakit, cipta atau batin tidak perlu ikut sakit. Inilah kesehatan yang sesungguhnya, yang disebut sebagai keuntungan terbesar.

Menjadi Pasien yang Mudah Dirawat

Seorang pasien, baik yang sedang diopname atau menjalankan rawat jalan, juga perlu mengondisikan kesembuhan bagi dirinya sendiri. Dalam arti, dirinya sendiri harus melakukan hal-hal yang sesuai, tahu batas dalam hal yang sesuai, mengonsumsi obat sesuai dosisnya, bisa jujur terkait perkembangan dirinya kepada dokter atau perawat, serta kuat menahan sakit yang timbul dari metode pengobatan (A iii 144). 

Dengan semangat yang sama, seseorang yang belum bebas dari penyakit batiniah juga dapat mengembangkan kelima hal tersebut. Hal-hal sesuai yang perlu dilakukan dan diketahui batasannya, dalam hal ini terkait dengan bagian-bagian kebajikan yang perlu dilakukan sebagai dasar. Obat yang perlu dikonsumsi adalah praktik Dhamma yang secara langsung mengarah kepada Kebebasan. Dokter atau perawat adalah kalyāṇamitta yang bisa membantu mengarahkan. Sementara itu, dalam praktik terkadang muncul perintang-perintang, serta kondisi  tidak nyaman yang perlu dilalui dengan kebijaksanaan yang mengiringi ketabahan.

Pelatihan untuk Menghilangkan Sakit Batin

Lantas, bagaimanakah pelatihan atau praktik yang mengarah kepada sembuhnya batin dari penyakit? Terlebih dahulu, kita perlu mengetahui bagaimana batin atau cipta bisa disebut sebagai bebas dari penyakit, karena ini sering disalahpahami.

Batin yang bebas dari penyakit adalah batin yang sepenuhnya terbebas dari pandangan bahwa ada diri. Dalam arti, memahami anattā secara penuh dan tuntas. Karena, sakkāyadiṭṭhi adalah sumber segala macam penyakit batin. Tanpa adanya sakkāyadiṭṭhi, tidak mungkin ada keserakahan, kebencian, salah-pengertian, serta segala macam bentuk turunannya.

Dengan demikian, secara praktis kita dapat menyelidiki pañcakkhandhā sebagai perihal anattā. Contohnya, dalam menyelidiki gugusan rupa, tidak mengerti rupa sebagai diri. Tidak juga sampai muncul pemahaman apakah diri memiliki rupa, rupa di dalam diri, atau diri di dalam rupa (S iii 3). Penyelidikan yang serupa juga dilakukan pada gugusan pengenyaman (vedanā), pengenalan (saññā), pembentuk-pembentuk (saṅkhārā), dan pengetahu (viññāṇa).


Daftar Rujukan:
  • Feer, M. L. (Ed.). (1975). Saṃyutta-Nikāya: Khandha-Vagga (Vol. III). London: The Pali Text Society.
  • Hardy, E. (Ed.). (1976). The Aṅguttara-Nikāya (Vol. III). London: The Pali Text Society.
  • Trenckner, V. (Ed.). (1979). Majjhima-Nikāya (Vol. I). London: The Pali Text Society.

Text Dhammadesanā dan Informasi Kegiatan Dapat Dilihat di Link Berikut: https://drive.google.com/file/d/1aSwF5Ijp3n_9aAjf5K8RiVkgRtiFtzn7/view

Dibaca : 6106 kali