x

Pandemi Bukanlah Penghalang Umat Buddha Pedesaan Untuk Berdana

Suasana pandemi bukan berarti menyurutkan semangat umat Buddha di pedesaan untuk berdana. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, umat Buddha Kampung Mranggen melaksanakan perayaan Kathina dengan khidmat dan antusias. Perayaan di laksanakan di Vihara Buddha Metta Kampung Mranggen, Dusun Kandangan, Desa Tempuran, Kec. Kaloran, Kab.Temanggung pada Senin (19/10).

Perayaan yang sudah sejak lama dinantikan umat akhirnya terlaksana dengan lancar hingga selesai. Umat menyambut dengan gembira terlaksananya acara Sanghadana di bulan Kathina kali ini.

“Sebenarnya sudah lama kami ingin supaya ada perayaan Kathina di vihara kami dan kali ini ternyata terwujud juga. Meskipun saat ini hanya bisa secara sederhana karena memang sedang dalam kondisi pandemi tapi kami sangat senang dan puas.”

“Jumlah umat yang kami undang juga hanya dari lingkungan satu dusun kami karena terkait perijinan yang belum diperkenankan untuk mengundang dari dusun-dusun lain. Protokol kesehatan juga harus kami patuhi mulai dari mewajibkan umat memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak ketika mengikuti acara,” terang Adi Susanto, selaku Ketua Vihara Buddha Metta.


Pesan Dhamma

Bhante Sujano Mahathera selaku pengisi pesan Dhamma mengulas kembali sejarah perayaan Kathina untuk menambah pengetahuan serta menambah keyakinan umat ketika mengikuti acara Sanghadana.

“Adanya Kathina ini karena adanya bhikkhu yang melakukan Vassa. Kalau tidak ada Vassa ya tidak ada Kathina. Sebelum Sang Buddha menetapkan aturan atau vinaya tentang Vassa, para bhikkhu tetap melakukan perjalanan di musim hujan. Pada waktu itu ada bhikkhu yang melakukan perjalanan menuju tempat Sang Buddha.

Masa itu juga para petani sedang musim menggarap sawah, musim mencangkul dan membuat galengan (tepi petakan sawah). Para bhikkhu tersebut berjalan melalui galengan tadi yang dalam kondisi belum kering. Akhirnya menyebabkan kerusakan pada galengan tersebut yang menyebabkan para petani tidak nyaman dan muncullah gunjingan di antara para petani. Hingga berita tersebut sampai kepada Sang Buddha,” jelas Bhante.

“Saat itulah Sang Buddha membuat aturan yang dinamakan Vassa. Dimana para bhikkhu tidak diperkenankan keluar atau melakukan perjalanan selama musim penghujan dan hanya berdiam diri. Tradisi itulah yang sampai saat ini masih dilaksanakan oleh para bhikkhu. Vassa ini sangat penting sekali bagi para bhikkhu, karena selama masa Vassa para bhikkhu lebih fokus untuk melakukan pembinaan ke dalam diri, membersihkan kekotoran batin di dalam diri.”

“Namun demikian kehidupan para bhikkhu itu memang bergantung seutuhnya kepada umat-umat yang mempunyai sifat kedermawanan atau kemurahan hati. Jadi kalau seorang bhikkhu itu tinggal di suatu tempat yang tidak ada dukungan, bhikkhu tersebut diperbolehkan pergi meninggalkan tempat tersebut. Oleh karena itu hal berdana kepada para bhikkhu ini harus dipahami dengan baik oleh para umat Buddha,” lanjut Bhante.

Berkenaan dengan berdana, lebih lanjut Bhante menjelaskan hal-hal yang seharusnya diberikan kepada para Bhikkhu.

“Umat juga harus tahu apa saja yang bisa di berikan kepada para bhikkhu di hari Kathina ini, yaitu empat kebutuhan pokok para bhikkhu; tempat tinggal, makanan, jubah, dan obat-obatan atau bisa perlengkapan mandi para bhikkhu.”

Untuk semakin memperkuat pemahaman Dhamma serta meningkatkan semangat umat berkaitan dengan dana, di sesi terakhir ceramah Dhamma Bhante memberikan penjelasan tentang buah karma baik bagi umat yang mau berdana.

“Banyak pahala baik bagi orang yang suka melakukan dan mengembangkan kedermawanan. Berdana itu sama dengan memberikan usia panjang, sama dengan memberikan keelokan, berdana sama juga dengan memberi kegembiraan atau kebahagiaan, berdana sama dengan memberi kekuatan. Empat hal inilah yang diberikan pada saat ada orang berdana.”

“Dalam Angutara Nikaya dijelaskan dalam satu dialog seorang Sumana dengan Sang Buddha bahwa meskipun ada dua orang sebanding dalam hal sila, samadhi, dan panna namun berbeda dalam berdana akan ada perbedaan ketika mereka terlahir kembali. Sama-sama terlahir di alam surga tapi bagi seseorang yang suka berdana akan melampaui dalam hal usia panjang, keelokan (ketampanan/kecantikan), kebahagiaan, kekuatan,” pungkas Bhante.

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 4881 kali