x

Segenggam Pasir

Buddha tidak mengajarkan apa-apa selain kebenaran. Jika suatu hal adalah tidak benar, Beliau tidak akan mengatakannya. Beliau mengajarkan Dhamma dengan cara sehingga siapapun yang merenungkannya akan dapat menegaskan apa yang Beliau katakan. Beliau juga tidak akan mengajarkan ajaran yang terlalu tinggi untuk dijangkau dan dipahami oleh pendengarnya.

Inilah sebabnya mengapa ajaran Buddha dikatakan Sanditthiko, dapat dilihat dari sisi sini dan kini. Jika seseorang mendengarkan ajaran-Nya dan mempraktikkannya dengan benar. Mereka akan menemukan kebenaran dari setiap kata-kata Buddha. Dengan cara ini mereka akan dapat mengembangkan percaya diri mereka.

Suatu ketika, saat Buddha pergi ke sebuah sungai, Beliau memungut segenggam pasir dan bertanya kepada bhikkhu-bhikkhu yang ikut bersama Beliau, “Manakah yang lebih banyak, segenggam pasir ini ataukah pasir yang berada di semua sungai dan lautan?”

Para bhikkhu tersebut kemudian menjawab, “Pasir yang berada si genggaman Yang Mulia adalah sedikit. Sedangkan pasir yang berada si semua sungai dan lautan jumlahnya jauh lebih banyak.”

Buddha membalas, “Dengan cara yang sama para bhikkhu, pasir-pasir yang berada di seluruh sungai dan lautan bagaikan kebenaran yang telah aku ketahui namun belum Aku ajarkan. Sedangkan kebenaran yang telah Aku ajarkan bagaikan segenggam pasir ini.”

Buddha tidak akan mengajarkan suatu ajaran yang tidak membawa manfaat bagi pendengarnya sekalipun ajaran itu benar – dengan kata lain, ajaran yang tidak dapat dibuktikan oleh pendengarnya. Beliau juga tidak akan memperdayai dunia dengan mengajarkan sesuatu yang tidak berguna atau sesuatu yang tidak benar. Beliau hanya akan mengajarkan kebenaran sejati yang dapat dimengerti dan ditegaskan oleh para pendengarnya, dengan mempraktikkannya.

Dicuplik dari “Segenggam Pasir”, terbitan Insight Vidyasena Production.

Sumber: Buddhazine.com

Dibaca : 955 kali