x

Pertama Kalinya Perayaan Kathina Di Kayong Utara

Minggu (7/11) menjadi sebuah hari istimewa, pasalnya pada hari tersebut terukir sebuah momen sejarah baru bagi umat Buddha Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Khususnya para siswa Sekolah Minggu Buddha. Harumnya dupa yang memberikan efek terapi dan lantunan Paritta yang menggema membuat suasana terbalut dalam energi positif yang damai dan tenang.

Bertempat di aula Vihara Dewi Kwan Im, Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, para siswa SMB dari tiga kecamatan berkumpul dengan seragam kuning terang kebanggaan mereka. Wajah ceria, semangat dan senyum terlihat menghiasi suasana sukacita di antara para generasi emas umat Buddha masa depan.

Momen ini semakin istimewa karena Bhikkhu Upasamo selaku Sangha Nayaka Sangha Theravada Indonesia Provinsi Kalimantan Barat yang sekaligus menjadi Pembina Yayasan Dhamma Giri Kayong Utara berkenan hadir di hari bersejarah tersebut. Kehadiran beliau menjadi pemantik semangat bagi para siswa, umat dan pejuang Dhamma di Kayong Utara.


Makna Kathina

Setiap bulan Oktober sampai dengan November umat Buddha di mana pun berada secara serentak dapat mengikuti perayaan Kathina yang diselenggarakan di berbagai vihara. Ciri utama perayaan Kathina adalah berdana kepada Sangha.

Secara umum makna dari perayaan Kathina adalah berdana kepada Sangha sebagai wujud bakti dan penghormatan atas praktik Dhamma. Kathina juga dapat dimaknai sebagai upaya melestarikan Buddha Sasana agar dapat terus memberikan manfaat bagi para dewa dan manusia. Ketika masih ada Sangha yang mempraktikan Dhamma dan Vinaya maka kelangsungan Buddha Sasana masih punya harapan.

Ketika Sangha monastik kokoh dalam Dhamma dan Vinaya maka kesempatan bagi perumahtangga untuk memperoleh manfaat dari Buddha Sasana terbuka lebar. Oleh karena itu hubungan timbal balik yang erat antara Sangha monastik (pabbajita) dan perumahtangga (gharavasa) sangat berperan besar untuk menjaga kelestarian Buddha Sasana.

Di sisi lain upaya melestarikan Buddha Sasana perlu dilakukan melalui transimi ajaran untuk mewariskan Dhamma dari generasi ke generasi. Dalam hal ini peran dan tanggung jawab Sangha dan umat perumahtangga sangat dibutuhkan guna memastikan bahwa ajaran Buddha dapat terus dipelajari dan dipraktikan oleh generasi ke generasi untuk waktu yang lama. Bila Buddha Sasana dapat bertahan lama maka semakin banyak makhluk yang dapat memperoleh manfaat dari ajaran Buddha.


Aset dan investasi masa depan

Aset yang paling besar bukanlah megahnya gedung vihara dengan taman, stupa, pagoda bahkan danau buatan di halaman vihara. Namun aset yang paling berharga adalah generasi muda sebagai penerus dan penjaga Buddha Sasana.

Tanpa adanya generasi penerus maka kelestarian ajaran Buddha akan pupus dan vihara yang megah hanya menjadi museum sebagai bukti sejarah masa lalu.

Betapa banyaknya aset fisik megah yang menjadi bukti sejarah kejayaan Buddhadhamma Nusantara di masa lalu yang kini hanya berdiam bisu. Betapa banyak rupaka Buddha dan Bodhisattwa di masa lalu menjadi obyek puja yang diagungkan namun kini hanya menjadi penghuni museum dan hiasan taman.

Aset masa depan agama Buddha di Kabupaten Kayong Utara adalah siswa Sekolah Minggu Buddha. Mereka merupakan aset yang sangat berharga bagi agama Buddha.

Guna memastikan agar Buddhadhamma terus lestari di Kabupaten Kayong Utara maka perlu usaha dan investasi jangka panjang untuk masa depan. Salah satu solusinya adalah mendirikan Yayasan Dhamma Giri sebagai wadah perjuangan dan investasi bagi masa depan agama Buddha di Kayong Utara.


Yayasan Dhamma Giri Kayong Utara

Yayasan Dhamma Giri Kayong Utara terbentuk sebagai wujud kepedulian dan semangat untuk berjuang dalam melestarikan dan mengembangan ajaran Buddha di Kayong Utara. Tekad untuk merawat benih-benih Dhamma yang masih ada agar dapat tumbuh berkembang mencapai kejayaan.

Anak-anak buddhis di Kayong Utara laksana benih-benih berharga yang perlu di jaga dan dirawat agar menjadi generasi penerus agama Buddha di masa depan.

Secara kuantitas memang tidak banyak jika dibandingkan dengan wilayah lain. Justru karena tinggal sedikit maka perlu dirawat dan dipertahankan agar tidak punah.

Cara terbaik untuk menjaga generasi ini adalah melalui jalur pendidikan. Menyadari kenyataan ini maka Yayasan Dhamma Giri menjalankan program prioritas utamanya adalah di bidang pendidikan.

Yayasan Dhamma Giri mengelola satu Cetiya dan tiga Sekolah Minggu Buddha di Kabupaten Kayong Utara. Cetiya Dhamma Giri di Kota Sukadana, SMB Mahabodhi di Kota Sukadana, SMB Obhasati di Kecamatan Simpang Hilir dan SMB Pubbakari di Kecamatan Teluk Batang. Bekerjasama dengan Yayasan Be Good Jakarta, kini Yayasan Dhamma Giri memiliki empat orang Guru Agama Buddha yang bertugas di Kabupaten Kayong Utara untuk melakukan pembinaan siswa-siswi buddhis.

Mimpi yang ingin diwujudkan oleh Yayasan adalah dapat menyediakan fasilitas pendidikan dan pelayanan umat dalam bentuk Pusdiklat atau sekolah buddhis sebagai sarana untuk menjaga kelestarian ajaran Buddha di Kabupaten Kayong Utara. Jalinan historis Bumi Tanjungpura dengan Buddhadhamma menjadi spirit kuat untuk mewujudkan mimpi luhur tersebut.


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 1554 kali