x

Rahula, Teladan Bagi Para Samanera

Mereka yang baru memasuki Sangha biasa disebut sebagai seorang sāmanera (untuk pria) dan sāmanerī (untuk wanita). Sebutan ini merujuk pada praktisi petapaan dan bisa dikatakan berarti “pemuda/i yang melepaskan keduniawiaan”. Tradisi menjadi sāmanera dan sāmanerī kerap dilestarikan di negara-negara buddhis di Asia Selatan dan Tenggara. Berbeda dengan para bhikkhu dan bhikkhuni yang telah menerima penahbisan penuh sebagai anggota Sangha, para sāmanera dan sāmanerī tidak melaksanakan peraturan penuh pāṭimokkha dan tidak mengikuti pula pembacaan ulang peraturan-peraturan tersebut pada hari-hari uposatha. Sejarah mencatat bahwa sāmanera pertama yang ditahbiskan adalah Rāhula, putra Buddha Gautama sendiri. Rāhula menjadi sāmanera pada saat usianya tujuh tahun ketika dia mengikuti Buddha sambil meminta warisan berharga untuknya. Buddha pun memanggil YM Sāriputta dan memintanya untuk menahbiskan Rāhula kecil, menjadikannya sāmanera pertama. Menurut Vinaya (peraturan monastik) yang banyak digunakan di negara-negara buddhis di Asia Tenggara dan Selatan, seseorang yang berusia di bawah 20 tahun tidak dapat ditahbiskan sebagai seorang bhikkhu, hanya sebagai seorang sāmanera. Para sāmanera dan sāmanerī ini menjalankan Sepuluh Sila sebagai pedoman sehari-hari dan mendedikasikan diri mereka untuk belajar ajaran Buddha. Setelah setahun menjadi sāmanera atau setelah berusia 20 tahun, mereka dapat menerima upasampadā dan ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Beberapa vihāra mewajibkan para umat yang ingin menjadi bhikkhu untuk menerima penahbisan sebagai sāmanera terlebih dahulu (meskipun berusia lebih dari 20 tahun) sebagai sebuah upaya untuk mempersiapkan dan membiasakan diri mereka dengan kehidupan sebagai anggota Sangha. Mengingat peranan Rāhula sebagai sāmanera pertama di dunia, Rāhula dianggap sebagai Pelindung para sāmanera/i. Praktek memuja teladan Rāhula ini mirip seperti yang dilakukan oleh para bhikkhu/ni terhadap YM Sāriputta, YM Moggallāna, dan YM Ānanda yang menyimbolkan tiga kelompok ajaran, yaitu Abhidhamma, Vinaya, dan Sutta. Tradisi puja yang mengasosiasikan seorang tokoh dengan teladan dan peranannya telah lama dilakukan dan bahkan dicatat pula oleh Faxian, seorang penjelajah buddhis dari Tiongkok (sekitar 320 – 420 M). Dalam kunjungannya ke negara-negara buddhis di Asia Tenggara dan Selatan, dia mencatat banyak komunitas bhikkhu yang setelah bermukim di suatu tempat, biasanya akan membangun stupa untuk siswa-siswi utama. Dia mengatakan bahwa para bhikkhuni akan memberikan persembahan di stupa Ānanda atas jasanya membujuk Buddha untuk menyetujui penerimaan wanita sebagai anggota Sangha. Demikian pula para bhikkhu akan memberikan persembahan di stupa YM Sāriputta dan YM Moggallāna sebagai pengingat tentang Abhidhamma dan Vinaya. Sementara itu, para sāmanera/i akan memberikan persembahan di stupa Rāhula.

Tradisi serupa juga dicatat oleh penjelajah lain dari Tiongkok yaitu Xuanzang (602-664 M) yang mengunjungi Madhurā. Dia mencatat bahwa kelompok Abhidhamma memberikan persembahan kepada YM Sāriputta, kelompok yang fokus pada meditasi memberikan persembahan kepada YM Moggallāna, kelompok yang fokus pada pelestarian sutta memberikan persembahan kepada YM Pūrṇa-maitrāyaṅī-putra, kelompok yang mempelajari vinaya memberikan persembahan kepada YM Upāli, para bhikkhuni memberikan persembahan kepada YM Ānanda, mereka yang belum menerima peraturan penuh memberikan persembahan kepada YM Rāhula, dan mereka yang mempelajari Mahayana memberikan persembahan kepada berbagai bodhisatta. Sejarah juga mencatat bahwa Kaisar Ashoka membangun sebuah stupa yang didedikasikan untuk menghormati teladan Rāhula sebagaimana yang ditulis oleh kedua penjelajah dari Tiongkok diatas.

Dicuplik dari “Riwayat Hidup Rahula, Pewaris Dhamma”, terbitan Insight Vidyasena Production.


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 943 kali