x

Nalanda Foundation Kembangkan Komunitas Buddhis Melalui Program Tali Cinta Kasih

Nalanda Foundation melalui program Tali Cinta Kasih telah menjalin kerjasama dengan berbagai vihara di pedesaan. Vihara Buddha Metta, Kampung Mranggen, Dusun Kandangan, Desa Tempuran, Kec. Kaloran, Temanggung menjadi salah satu vihara yang sudah menjalin kerja sama baik dengan Tali Cinta Kasih.

Sebelum menjalin kerjasama dengan Tali Cinta Kasih, Vihara Buddha Metta hampir sama dengan kebanyakan vihara di pedesaan pada umumnya. Bangunan vihara hanya ruang dhammasala, tanpa kuti, pagar, ataupun ruang penunjang lainnya. Meski begitu, bukan berarti umat Buddha di vihara ini pasif. Mereka mempunyai sejumlah aktivitas rutin di vihara maupun puja bakti anjangsana.

Adi Susanto, Ketua Vihara Buddha Metta, menuturkan bahwa kegiatan umat Buddha Vihara Buddha Metta terbagi dalam dua lokasi, yaitu di vihara dan anjangsana ke rumah-rumah umat secara bergiliran. “Puja bakti rutin di vihara dua kali dalam satu minggu. Rabu malam untuk ibu-ibu dan Sabtu malam puja bakti bersama semua umat. Sedangkan kegiatan anjangsana dilakukan setiap Kamis malam” kata Adi.

Sebagai umat Buddha Jawa yang masih kental dengan adat dan tradisi lokal, umat Buddha Vihara Buddha Metta juga melakukan puja bakti menjelang upacara tradisi. Saat upacara Nyadran misalnya, mereka melakukan puja bakti untuk mengirim doa kepada leluhur di area makam pada malam hari menjelang pelaksanaan Nyadran.

“Selain itu umat juga kerap kali mengadakan perayaan hari besar seperti Waisak dan Kathina. Terdapat pula kegiatan gabungan bersama vihara-vihara lain di Desa Tempuran yaitu sarasehan yang dilakukan setiap 35 hari sekali pada Minggu Kliwon secara bergiliran dari empat vihara” lanjut Adi.

Antusias umat mulai dalam menjalankan puja bakti di vihara mulai terasa jelang hari raya Waisak tahun 2018. Tiap malam, vihara penuh dengan umat Buddha yang menjalankan puja bakti Sebulan Pendalaman Dhamma (SPD). “Sejak saat itu umat tetap meneruskan puja bakti rutin setiap malam di vihara, bahkan kegiatan ini bertahan lebih dari satu tahun hingga awal tahun 2020” tutur Weny, salah satu pemuda Vihara Buddha Metta.

Kerja Sama dengan Tali Cinta Kasih

Nalanda Foundation Kembangkan Komunitas Buddhis Melalui Program Tali Cinta Kasih
Aktivitas warga di Vihara. Sumber Foto: Ana Surahman
Semangat umat Buddha Vihara Buddha Metta belajar dan praktik Dharma, membawa berkah. Bulan April tahun 2021, Yayasan Nalanda melalui program Tali Cinta Kasih memberikan dukungan kepada Vihara Buddha Metta dengan melakukan kerja sama. “Mereka menyambut antusias. Ini menjadi satu jalan untuk mewujudkan impian umat untuk mengembangkan pembangunan vihara” Weny bercerita.

Kerjasama dengan Tali Cinta Kasih, membawa dampak besar bagi Vihara Buddha Metta, terutama pembangunan sarana puja bakti. “Bantuan dana yang datang di awal-awal kerjasama disalurkan untuk pembangunan tahap pertama yaitu, perbaikan lantai ruang Dhammasala yang sudah rusak karena penurunan tanah dan membenahi altar.  Selain itu juga digunakan untuk pembangunan pagar keliling area vihara, serta pembangunan pintu gerbang masuk area vihara berupa gapura dari batu lengkap dengan gupala sebagai penjaga gerbang.” tambah Weny.

Selain itu, aktivitas umat Buddha Vihara Buddha Metta juga makin berkembang. Berbagai program peningkatan pengetahuan dan praktik Buddha Dharma mulai berjalan baik. “Setiap hari Jumat ada meditasi rutin, Sabtu kami ikut One Day Meditation dan Minggu ikut Dhamma Talk Online yang digelar diselenggarakan oleh Nalanda Foundation. Kami juga melaksanakan Fangshen rutin.”

Anak Muda Makin Tergerak

Aktivitas warga dan anak muda vihara bekerja sama dengan Nalanda Foundation. Sumber: Ana Surahman
Aktivitas warga dan anak muda vihara bekerja sama dengan Nalanda Foundation. Sumber: Ana Surahman
Sejak menjalin kerjasama dengan Tali Cinta Kasih, seluruh umat Buddha Vihara Buddha Metta semakin aktif. Pemuda dan remaja mempunyai inisiatif mengadakan kegiatan berupa anjangsana rutin, puja bakti setiap Minggu pagi, dan kenduri pada saat bulan purnama. “Pada saat anjangsana salah satu kegiatannya merayakan ulang tahun bagi tuan rumah yang sedang ulang tahun.” jelas Yadi, salah satu pemuda Kampung Mranggen.

Menurut Yadi, anjangsana anak-anak dan remaja dapat membiasakan remaja dan anak-anak muda Kampung Mranggen berkegiatan keagamaan Buddha. “Setiap Senin malam kami menjadwalkan puja bakti secara bergiliran di rumah yang ada anak-anaknya atau yang ada remajanya secara bergiliran. Tapi sebenarnya dalam kegiatan ini tidak hanya puja bakti saja, kami juga mengadakan arisan untuk anak-anak dan remaja supaya mereka juga terbiasa untuk menabung. Bagi umat yang membutuhkan pembacaan paritta untuk memperingati hari spesialnya, seperti peringatan kelahiran atau ulang tahun pernikahan bisa mengundang grup remaja dan pemuda untuk mengadakan pembacaan paritta di rumahnya. Kegiatan ini sudah hampir satu tahun berjalan hingga sekarang” terang Yadi.

Terus Melengkapi Sarana Puja Bakti

Meneruskan rencana pembangunan, saat ini warga mulai menggarap lahan kosong di belakang Vihara. Rencananya akan dibangun kuti serta pendopo untuk menunjang perkembangan kegiatan umat. Lahan seluas 20 x 22 meter sudah mulai digarap dengan membangun tiang-tiang penyangga. Dalam pengerjaannya tidak hanya bergantung pada anggaran dana namun juga digalakan kerja bakti umat dalam beberapa pekerjaan seperti penggalian tanah dan pengecoran. Untuk melayani tukang dan buruh, secara bergiliran umat mengirim snack pagi dan sore untuk pekerja.

Menurut Adi Susanto hal ini dilakukan supaya umat juga turut andil berdana dalam perkembangan vihara, dan juga penghematan dana masuk sehingga bisa dialokasikan untuk pembangunan ataupun pengembangan yang lain. Adi Susanto berharap ke depannya tidak hanya pembangunan secara fisik saja tetapi juga untuk pengembangan SDM umat Buddha di Kampung Mranggen.

“Ke depan kami berharap pengalokasian dana juga bisa digunakan untuk pengadaan kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan SDM umat. Jika melihat potensi yang ada di kampung kami mungkin dari sisi pertanian dan kesenian bisa dikembangkan menjadi lebih baik. Saat ini konsep pertanian di kampung kami masih menggunakan cara-cara lama, belum ada inovasi dalam menggarap lahan pertanian.  Kami sebenarnya butuh terobosan-terobosan atau ide-ide baru dalam menjalankan aktivitas pertanian, karena memang di sini mayoritas umatnya bermatapencaharian sebagai petani. Pengetahuan kami tentang inovasi bertani masih sangat minim. Di bidang lain saya melihat semangat warga dan terutama anak-anak muda dalam berkesenian juga tinggi, sehingga perlu adanya peningkatan kualitas kesenian supaya pelestarian budaya di kampung kami tetap berjalan dan bahkan berkembang” imbuh Susanto. [MM]


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 959 kali