x

Naluri Pirukunan Tradisi Merawat Gotong Royong

Kamis (16/9), jarum jam masih menunjuk angka 7 saat Supriyanto beranjak dari tempat tidur. Bapak satu anak ini sengaja bangun satu jam lebih awal dari biasanya. Setelah benar-benar sadar, ia langsung mengasah sabit, menyela motor, dan bergegas ke ladang untuk mengambil rumput sebagai pakan ternak. 

Meskipun malam sebelumnya tidak turun hujan, rumput masih basah oleh embun pagi. Sebenarnya, hewan ternak tidak suka dengan rumput yang masih basah, namun karena hari itu salah satu tetangga Supri ada yang membongkar rumah, ia harus menyelesaikan semua kewajiban rumah sebelum pukul 9 pagi. “Saya tidak bisa meninggalkan pirukunan,” kata Supri.

Supri hanyalah salah satu potret masyrakat perdesaan Temanggung dalam mengamalkan kehidupan sosial. Di Dusun Krecek, Desa Getas, Kec. Kaloran (juga di perdesaan Temanggung) gotong royong masih menjadi dasar perilaku keseharian warga. Macam pekerjaan yang membutuhkan ternaga banyak selalu dikerjakan secara bersama-sama.

Ngatiyar, seorang peneliti asal Yogyakarta yang sudah melakukan penelitian sebanyak 3 kali di Temanggung menuliskan temuan menarik. Menurutnya, hingga kini masyarakat Temanggung, khususnya Kec. Kaloran memiliki nilai kearifan lokal.

Kearifan lokal itu terkait konsep kerukunan yang disebut naluri pirukun (harmoni) dan selam (nyesel alam/menyatu dengan alam). Naluri pirukun dan selam itulah yang menjadi pijakan setiap orang bertindak. “Pada dasarnya masyarakat dengan naluri pirukunan dan selam itu selalu menginginkan terjadinya integrasi di dalam hidup mereka,” tulis Ngatiyar.

Di Dusun Krecek, pirukunan dijalankan dalam banyak hal. Orang punya hajat, membangun rumah, menata jalanan dusun, ritual adat, dan upacara kematian. Yang terlibat dalam kerja bakti tak hanya kaum laki-laki, perempuan juga terlibat dengan peran masing-masing. 

“Saya sendiri sebenarnya bukan asli warga Krecek, saya menikah dengan salah satu warga Krecek kemudian menetap di sini. Saat awal-awal saya tinggal di sini juga kaget dengan kehidupan warga sini. Padat sekali, jadwal kegiatan sosial dan pirukunan, bahkan di sini. Kalau ada warga yang sedang membangun rumah  maka seluruh warga satu lingkungan RT akan membantu pembangunan hingga selesai dan itu tanpa imbalan. Tukang pun juga masuk dalam tenaga sukarela dan ini berbeda sekali dengan tempat tinggal asal saya,” Supri bercerita. 


Ibu-ibu sedang memasak makanan untuk berbagai kegiatan pirukunan. Foto: Ngasiran
Hal senada juga diungkapkan oleh Budi, warga Dusun Porot, yang sehari-harinya bekerja di Dusun Krecek. “Dusun Krecek ini emang beda dengan dusun-dusun lain, di dusun lain termasuk dusun saya juga ada gotong-royong dan kerjabakti tetapi tidak sesering di Krecek. Gaya kehidupan masyarakat Krecek berbeda, saya sampai heran melihat kehidupan maysarakat sini yang masih sangat semangat dan kompak dalam menjalankan gotong royong, apalagi yang saya tahu di Krecek itu bahkan jadwal kerjabaktinya sangat padat,” ujar Budi.

Kegiatan gotong-royong di Krecek tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, namun keterlibatan kaum ibu-ibu juga turut andil besar dalam kelancaran kegiatan. 

“Di sini memang tidak hanya kaum laki-laki yang sering terlibat dalam kegiatan pirukunan dan gotong-royong. Kaum Ibu-ibu juga tidak ketinggalan, bahkan peran kaum ibu-ibu juga cukup besar misalnya saja pada saat gotong-royong kaum ibu-ibu selain ikut membantu pekerjaan laki-laki juga akan membantu memasak bagi semua yang bekerja. Ini akan menambah semangat para laki-laki yang bekerja,” terang Kirmi, perempuan warga Dusun Krecek.

“Dengan sering bertemu dalam suatu kegiatan, kami bisa menjalin komunikasi lebih baik. Bisa saling bertukar gagasan, di samping itu juga kebersamaan kami semakin terasa,” imbuhnya.

Dampak kuatnya kebersamaan dan kekeluargaan warga dapat dirasakan oleh siapa pun yang datang ke Dusun Krecek. Orang-orang yang datang ke Krecek pun akan merasakan kehangatan atas sambutan warga. Masyarakatnya yang ramah, bahkan warga usia anak-anak pun tidak canggung untuk berbaur dan menyapa para pendatang seakan mereka sudah mengenal lama. Hal ini menjadi cerminan betapa kerukunan dan keharmonisan warga masih tetap terjaga dengan baik. [MM]


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 947 kali