x

Indonesia Tipitaka Canting: Berusaha Tidak Melakukan Kejahatan Sekecil Apapun

Pukul 4.30 dini hari. Suasana Pelataran Candi Borobudur masih gelap. Namun, ribuan orang telah berkumpul, mengenakan seragam putih, memasuki altar utama di Taman Lumbini. Orang-orang yang berdatangan dari beragam daerah di Indonesia ini, melaksanakan ritual pengambilan delapan sila (atthasila), bagian dari Indonesia Tripitaka Chanting (ITC). Kegiatan tahunan ini akan berlangsung Jumat – Minggu (8-10/7). 

Diawali dengan pembacaan Namaksara serta persembahan amisa puja, para upasaka dan upasika mengucapkan tekad menjalankan delapan sila di bawah tuntunan dua bhikkhu Sangha; Bhikkhu Subhapanno dan Bhikkhu Guttadhammo. Peserta akan menjalankan praktik delapan sila selama 3 hari; Jumat – Minggu. ITC merupakan rangkaian dari acara peringatan Asalha Puja yang akan dilaksanakan pada Minggu (10/7) di Taman Lumbini, Borobudur.

Ketua Umum Sangha Theravada Indonesia, Bhante Subhapanno menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini para peserta akan menjalankan uposatha atau puasa yang dijalankan oleh para Arya Sangha. Oleh karenanya, praktik ini juga disebut sebagai Arya Uposatha, praktik para Arahanta. 

“Karena ini praktik yang dijalankan oleh para Arahanta dan juga kita praktikkan sekarang ini, yaitu delapan sila (atthasila), perlu kita munculkan pemahaman dari dalam bahwa praktik yang saya jalankan adalah praktik para arya. Dimana para arya tidak melakukan kejahatan sekecil apapun. Maka dalam latihan ini kita juga berusaha menumbuhkan keyakinan dan nilai-nilai luhur di dalam diri kita,” ucap bhante. 

Tidak hanya sekedar menjalankan sila, dalam kesempatan ini bhante juga mengajak para umat untuk  mengembangkan nilai-nilai luhur lain seperti cinta kasih, kasih sayang, dan pikiran yang terbebas dari berbagai kotoran. Menurut Bhante, dengan mempraktikkan delapan sila juga mampu mengurangi kotoran-kotoran pikiran berupa keserakahan, benci, dengki, iri, dan dendam. Disamping itu, bhante juga menghimbau para peserta untuk merenungkan kualitas Buddha, Dhamma, dan Sangha selama pelatihan. 

“Di samping telah merawat dan menjalankan sila dengan sempurna, saya anjurkan untuk mengembangkan nilau luhur, pertama merenungkan kualitas para Buddha. Sang Guru Yang Maha Suci yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna tindak-tanduknya, sempurna kebijaksanaannya, sempurna menempuh jalan ke Nibbana, guru bagi para dewa dan manusia. Renungkan kualitas Guru Agung sehingga batin kita menjadi bening, menjadi murni, tenang dan bahagia.”

“Demikian juga kita renungkan sifat-sifat luhur atau kualitas Dhamma ajaran Guru Agung sebagai jalan menuju kebebasan dari penderitaan. Dengan merenungkan Dhamma yang sangat dekat , tidak lekang oleh waktu, menuntun untuk kita melakukan penyelaman dan membuktikan sebagai seorang bijak dan menyelami Dhamma dalam batin masing-masing. Dengan merenungkan Dhamma sehingga batin kita menjadi bening, mejadi murni, tenang dan bahagia serta terbebas dari kotoran batin.”

“Juga kita merenungkan kualitas Sangha para arya. Sangha yang patut, yang benar dan lurus, delapan jenis makhluk suci, siswa-siswa yang telah mengikuti jejak keteladanan Guru Agung sehingga mencapai apa yang semestinya dicapai. Sanga para arya adalah teladan, mereka yang telah membuktikan dengan mengikuti sang jalan yang ditunjukkan oleh Guru Agung Buddha. Setidaknya, sekalipun yang dicapai baru tingkat awal kesucian, tetapi tidak akan terlahir lagi di alam menderita atau alam rendah.”


Bhante melanjutkan bahwa dengan merenungkan kualitas Budhha, Dhamma, dan Sangha akan mampu menumbuhkan nilai-nilai luhur dalam diri seseorang. Para peserta latihan juga dianjurkan untuk merenungkan latihan moral yang akan dijalani. Hal ini menurut bhante akan menjadi evaluasi dalam diri umat, demi kesempurnaan praktik sila dari hari ke hari.

“Sila yang dijalankan dengan baik termasuk atthasila ini, maka ketika seseorang tersebut harus meninggalkan dunia ini akan meninggal dengan tenang dan bahagia. Ketika meninggal dengan tenang dan bahagia sudah tentu akan terlahir di alam bahagia. Dengan merawat dan menjalankan sila banyak mafaat yang akan diperoleh , seperti kelahiran kembali di alam bahagia, alam surga hingga alam brahma, dan kebebasan dari kotoran batin,” imbuh bhante.

Mengenai manfaat sila yang dirawat dan dijalankan dengan baik, bhante menjelaskan bahwa uraian ini ditegaskan oleh Guru Agung Buddha dalam Uposatha Sila maupun Sikhapada Sila. Sang Buddha menyatakan bahwa jika seseorang mempraktikan sila dengan baik, tidak akan pernah ada penyesalan di kemudian hari. Oleh karenanya, bhante sangat menghimbau para peserta untuk merawat dan  mempraktikkan sila dengan sebaik-baiknya. 

“Latihan ini sangat singkat, maka marilah kita jalankan dengan baik, merawat sila dengan sungguh-sungguh bahkan sempurna. Maka akan membawa manfaat yang besar, yang membahagiakan dan berkurangnya kotoran-kotoran batin dan kebahagiaan pun bertambah. Semoga anda semua menemukan jalan kedamaian, semoga cita-cita luhur tercapai, semoga anda semua berbahagia,” pungkas bhante. [MM]

Sumber: Buddhazine.com

Dibaca : 1154 kali